Abraham Maslow once taught about several
needs as phases in our life.
The ultimate goal is to be someone
self-actualized.
It can be defined as:
- Achieve the ultimate purpose
- Funcitoned to the peak level
- Creating masterpiece
- Complete happiness
AKTUALISASI DIRI
Teorinya, hanya akan tercapai setelah
terpenuhinya 4 tingkat kebutuhan dalam
sebuah hirarki:
- Kebutuhan dasar, it’s all about
making money for living. From hand to mouth
(Idiom: Uang didapat di tangan hanya
sampai ke mulut, cukup makan aja)
- Rasa aman dan jaminan masa depan.
We’re thinking about saving and investment.
Secure in the career path and development.
- Love and affection, kebutuhan diterima
as a human being, mendapat perhatian dan
kasih sayang. It’s not about romance,
but in general. Platonic love.
- Self esteem, rasa berharga, dapat
pengakuan dan pujian untuk prestasi
atau hal positif yang telah dilakukan.
Barulah setelah itu …
Self actualization!
http://en.wikipedia.org/wiki/Abraham_Maslow
I remember my previous companies.
I will share you…
1. Why I resign from one, and move to another;
2. Why I didn’t accept offer from
‘monkey business’ office;
3. Why I refuse to join after an interview
meski sudah 99% diterima;
4. Why I consider of moving after working
for several months in a real company;
5. Why I decided to stay in my current company
I will make them anonymous…
Story #1
I started as journalist, with such an
irrational payment. Yet, I enjoyed, masih
kuliah, hitung2 cari pengalaman, lumayan
bisa beli pulsa dan makan siang.
But this company… need to learn more
to be professional. They often pay me
late melewati batas kewajaran. Biasanya
honor paling lambat tanggal 10 tiap bulan,
once pernah sampai 11 belum, I asked,
they said "Sabar..setelah tanggal 15 ini ya
(Januari 2007 -Red)."
Upsetly waiting, mereka baru setor tanggal 18,
nggak bohong kan? They didn’t say pas tanggal
15 but after… sampai malam final Piala Dunia
2010 pun, masih tetap benar,
karena nggak ada batas waktu yang jelas.
Kebutuhan dan tuntutan hidup terus nambah,
impossible to rely on this company.
Thank you for the experiences
and the lesson that I learned myself after
4 years serving GOD with my talent there.
Juga untuk Mr.Peter Julio Tarigan, senior reporter
yang banyak ngajarin all about journalism.
http://www.friendster.com/9144974
Ketika kebanjiran, my boss at the current
company offered me some help. Bantuan konkret!
Bahkan ditanya "Mau dijemput atau dievakuasi?
Butuh bantuan apa, bilang aja…"
Juga ditawarin nginep di rumah kos.
So contrast with them… they sent e-mail
di awal Februari, they asked my opinion
untuk edisi ultah, I replied their questions
dan ngasi tau karena kebanjiran
jadi telat bales (seminggu setelahnya)
Tanpa basa-basi atau sedikitpun rasa simpati,
di reply berikutnya, mereka langsung
ngajak brain-storming via e-mail, suruh
bantu mikirin ide tulisan.
What?!
Is that what Jesus taught us?
They’re all religious church activists,
after all. I didn’t reply them until now.
Come on… at least, hiburlah gue dulu
yang baru kehilangan beberapa perabotan
akibat terendam air. Walau hanya satu
kalimat, walau nggak bisa ngasih bantuan
secara materiil.
Hanya si Peter aja yang nanya kabar
lewat SMS selama pengungsian.
Itupun dia kirim as personal,
as friend bukan mewakili perusahaan.
I’ve been writing to them since 2002,
4 tahun lebih… They knew my home
address is in Kelapa Gading yang kena
banjir parah! But…
Di perusahaan yang sekarang,
work only 3 months and my boss not a very
religious person BUT… she’s able to show
kindness as a human as well to me as
her employee.
Sorry if I talked like this,
kadang kritik emang nggak enak,
tapi tanpa itu kita nggak bisa introspeksi
diri untuk jadi lebih baik.
Luca 6:31
"Ciò che volete gli uomini facciano a voi,
anche voi fatelo a loro."
Story #2A
A publishing company, asked me to
write a book for them.
They gave me the outline, and the content
they wanted. I agree…
Tapi nggak ada kejelasan soal jumlah honor
"Pokoknya nanti dapet, tapi sesuai standar
kita. Lakukan aja yang terbaik sebagai
pelayanan."
Yeah, bisa ditebak…
Next, two weeks before batas waktu,
I still haven’t write anything.
Bahkan dalam waktu 3 hari, I can finish
it all, tapi mau tau dulu berapa…
They open the price 525 ribu rupiah,
untuk nulis 40 halaman. Bener2 below
the standard. I was expecting sekitar
4 juta lah, dengan hitungan satu halaman
untuk majalah aja Rp 100.000,-
Wajar dong…
Next day, after I snubbed their ‘peanuts’
the price raised into 875 ribu, which
is so laughable. It’s useless to have
further negotiation with that religious
organization.
‘If you can only pay with peanuts,
you should hire monkey to work for your
company.’ I wish I could say that to them,
but my courtesy prevented me.
Story #2B
I enter a tabloid corporation.
For just a week, then I didn’t proceed
with their contract, simply because
I’ve learned bahwa… ada yang nggak
beres.
Latihan & teori hanya 2 hari, sisa 5 hari
untuk langsung praktek, ditugaskan dan
andai bisa jadi artikel yang dimuat,
masih belum dapat bayaran. Karena masih
dianggap magang!
Oknum HRDnya nggak nepati janji,
jam kerja ‘terlalu fleksibel’ sehingga
pulang malem banget, juga nggak dihargai
secara duit dan juga pengakuan bahwa
I already have 4 years of experience.
A big company, but untuk karyawan baru,
belum dapet komputer, bahkan tape-recorder
harus punya sendiri, termasuk beli batere
with my own money. Hah?!
The HRD promised selama masa magang,
sehari dapat Rp 27.500 (Sangat nggak masuk
otak! Dengan jam kerja lembur all days,
plus sebagai reporter harus keliling
dengan berbagai kendaraan umum. Tekor!
Nggak balik modal, bisa2 balik modar…
hehe, ekstrim ya, just kidding!)
Ternyata at the end of the training sessions
yang awalnya dijanjikan hanya seminggu,
hanya Rp 25.000 per hari (Ga tau tuh 2500-nya
kemana?) DAN…
Keputusan diubah, semua peserta magang
diminta tambahan waktu pelatihan sebulan lagi.
I quickly said "NO, thanks!"
Bukan masalah selisih duit no-ceng-go,
it’s about integrity, honesty!
Orang yang sama menjanjikan, dan
dia juga yang menanda-tangani slip gaji.
Kenapa bisa ada selisih?
Kenapa ada mis-komunikasi dengan editor
yang awalnya diberi-tau bahwa magang
hanya seminggu, eh tiba2 jadi nambah
sebulan lagi…
The editor (a senior journalist who became
my mentor and writing coach for just a week
and I can still respect until now),
Mr.Dono Baswardono said to me
"Memang nggak mungkin bisa cepat
kaya kalau jadi wartawan. Tapi kamu bisa
kaya ilmu, dan punya banyak relasi.
Kamu bisa kaya dari jadi penulis buku,
pembicara seminar atau buat program
pelatihan."
I remember those words, but… Nggak harus
dengan kerja di situ dulu kan?
So I decided to leave…
"Anggaplah satu bulan ke depan masa ujian
untuk kamu. Memang berat kerja tanpa gaji,
tapi…"
I didn’t pay attention his next words,
but I give him a firm answer: NO.
"Sebenarnya saya ingin ajak kamu,
kalau ada proyek2 di luar kerja rutin.
Kamu punya potensi untuk…"
Sori Mas Dono, my answer tetap… NO!
He can understand, hubungan baik masih
terjaga, meski kita nggak kerja di tempat
yang sama.
For me, one month means a lot,
I won’t waste my talent by working
in a monkey-businees office. I’d rather
stay home and read my italian lesson again.
Story #3
Setelah ikut tes, wawancara kerja oleh
staf HRD di sebuah perusahaan konsultan
karir dan head-hunter, they scheduled me
to meet their boss (setidaknya, itu
pengakuan mereka).
But the man who interviewed me… sucks!
Reluctantly he allowed me to sit, as if
he’s so busy. Dengan ogah2an, dia baca2
lembar CV dan hasil tes. Bolak-balik
tiap halaman dengan tampang males.
Situasi wawancara berubah jadi seperti
ruang kelas, seperti dosen sedang nguji
He asked me these questions:
1.) Why you choose psychology?
2.) What do you learn?
JAWABAN:
Because I like to learn about people,
awalnya ada dua pilihan kuliah, English
and Psychology. My English is already
good since high-school, I decided
to learn something else. It helps me
to understand myself, other people
and to help us to develop our potentials.
Dengan tampang agak under-estimate, lanjut
next question
3.) Apa bedanya dengan Antropologi dan
Sosiologi? Kan belajar tentang manusia juga
JAWABAN:
Anthropology = human behaviour related
to history and culture. The focus of study
is on group, tribe, nation, not human
as individual
Sociology = human behaviour related to
society, politic, economy. It is a future
and modern point of view. To predict
the dynamic of group or nation.
Psychology = from the word psyche (soul),
we learn all about personality and
what makes people they way they think,
act, believe, feel and do (teori sikap)
juga ada cabang2nya psi.sosial, pendidikan,
industri &organisasi, dll
http://en.wikipedia.org/wiki/Psychology
http://en.wikipedia.org/wiki/Anthropology
http://en.wikipedia.org/wiki/Sociology
Dalam hati "Apa-apaan sih? Nanyain gue
kayak anak SMU aja. Can you give me
a better question?"
4.) Why do you apply as: RECRUITMENT STAFF
dan apa bedanya dengan jadi HRD?
JAWABAN:
Why? Karena posisi yang dibuka adalah
RECRUITMENT STAFF, you idi**! It’s your
company yang pasang iklan lowongan kerja.
That’s why I apply that position.
But I explained politely.
Cause I’m a fresh graduate, still looking
for experience. Sebagai pemula, yang
paling sesuai ya jadi staf rekrutmen dulu.
Fungsi HRD ada empat:
1-Rekrutmen: menyeleksi orang yang tepat
berdasarkan skill dan karakter. Caranya
dengan tes kemampuan dan tes kepribadian.
Juga wawancara untuk melihat ketrampilan
berkomunikasi dan kepribadian.
2-Evaluation: memberi penilaian dari kinerja
3-Training: mengetahui kelemahan dan
merancang program pelatihan untuk
menambah skill atau memotivasi
4-Discipline and termination: memberi
teguran untuk karyawan yang nggak produktif,
nggak sesuai standar, hingga paling kejam…
memecat!
Dia nanggapi dengan dingin, angkat sebelah
alis, body language yang makin terkesan
ngeremehin dan suara yang menekan
"Oh gitu ya, memangnya jadi HRD
bisa sampai mecat segala?"
I added: "Secara tak langsung, dengan
membantu pemilik perusahaan memilih
mana yang layak dipertahankan dan karyawan
yang sebaiknya dipulangkan."
I knew all those theories, please ask me
something else, I wish I could yell that
to him.
5.) Hobi kamu katanya membaca, baca apa aja?
"Anything, fiction and non-fiction."
Baca komik juga?
"Yeah, Asterix, Lucky Luke, Tintin, Walt Disney,
Kungfu Boy…"
Kalau novel?
"Terakhir, baca dari PAULO COELHO, judul
The Alchemist."
http://en.wikipedia.org/wiki/Paulo_Coelho
Bisa ceritakan?
"Tentang seorang anak muda bernama Santiago,
perjalanan dari Spanyol hingga Mesir,
melintasi gurun, bertemu berbagai orang,
sebuah simbolisasi dari perjalanan dan
pencarian makna dan tujuan hidup.
Dia mendapat mimpi tentang harta karun
yang ada di sebuah piramid, akhirnya
ia justru menyadari harta-karun sesungguhnya."
Apa pesan yang kamu dapat dari situ?
"Dalam hidup, kita nggak pernah tau apa
yang akan terjadi jika tak pernah mencoba.
Juga kadang kita nggak sadar, bahwa
sesungguhnya yang kita cari sudah ada,
banyak orang mencari-carinya hingga
ke berbagai tempat, akhirnya sadar bahwa
rumah dan keluarganya, serta hidupnya
sendiri, itulah harta-karun sesungguhnya."
http://en.wikipedia.org/wiki/The_Alchemist_%28book%29
OK… lalu buku apa lagi yang kamu baca?
Dari yang non-fiksi juga boleh…
"Ada banyak, KAHLIL GIBRAN, The Prophet.
Kalau yang non-fiksi, tentang pengembangan-diri
dan psikologi, biografi, kumpulan kutipan
orang terkenal, juga majalah dan koran."
http://en.wikipedia.org/wiki/Gibran
http://en.wikipedia.org/wiki/The_Prophet_%28book%29
He’s a bit amazed, tapi masih ja’im, nanya:
Teori psikologi apa saja yang kamu tau?
What? Kalau dijelasin semua, ini mah jadi
kuliah namanya. So, I explained about
four temperaments yang sekarang udah
dimodifikasi jadi tes DISC
(Dominant, Influence, Stable/steady dan
Conscienctious/Correcting)
http://en.wikipedia.org/wiki/DISC_assessment
Juga oleh David Kiersey diubah jadi:
Idealist, Artist, Rational, Guardian.
http://en.wikipedia.org/wiki/Kiersey_Temperament_Sorter
Kalau dari aliran mistik, sedikit berkaitan
dengan Astrologi, itu adalah empat elemen:
Api : Aries, Leo, Sagittarius
Udara : Libra, Aquarius, Gemini
Air : Cancer, Scorpio, Pisces
Tanah : Capricorn, Taurus, Virgo
http://en.wikipedia.org/wiki/Astrology_and_the_classical_elements
http://en.wikipedia.org/wiki/Classical_element
Juga nyambung ke 4 jenis kartu Tarot,
arkana minor: Wand, Sword, Cup, Pentacle
(Tongkat, Pedang, Piala, Koin)
http://en.wikipedia.org/wiki/Minor_arcana
Tapi… itu pseudo-science, dianggap tidak
ilmiah karena tidak memakai metodolgi
yang terstandarisasi, lagipula banyak
unsur kebetulan, nggak reliabel sebagai
alat tes, karena hanya berdasarkan tanggal
lahir saja, juga tidak valid.
Kenyataannya, kadang ada orang yang
tidak sesuai karakter zodiaknya. Kalaupun
ada yang mirip, tapi hanya sedikit, atau
sifat yang sangat umum, bisa siapapun
dari zodiak apapun. Tapi dari yang sedikit
tepat itu, lalu dianggap bener banget.
Lagipula itu yang lebih populer untuk
majalah dan tabloid. Tapi alat tes psikologi
harus bisa memenuhi syarat:
- Reliable, bisa diandalkan dan dipercaya.
Kepada siapapun, hasilnya bisa membedakan
orang yang sesuai/tidak sesuai dengan
ATRIBUT yang hendak diukur.
- Valid, mengukur apa yang hendak diukur,
dari kesesuaian pernyataan sebagai indikator
suatu fenomena yang ingin diteliti. Juga
mampu membedakan, orang2 yang masuk kelompok
‘tinggi’ ’sedang’ atau ‘rendah’
- Prediktif, mampu memperkirakan suatu
perilaku atau sikap seseorang. Jika hasil
tesnya bagus, tapi ternyata kinerjanya payah,
berarti alat tesnya nggak bagus.
- Normatif, ada aturannya yang standar,
sehingga siapapun yang jadi administrator tes,
harus sama dari instruksi dan prosedur.
Untuk tes obyektif (jawaban benar atau salah)
harus ada kunci jawabannya, juga standar
penilaian. Sedangkan tes evaluasi atau
tes proyektif, karena bisa subyektif,
tetap harus mengikuti panduan atau
pedoman dasar memberikan penilaian.
- Spesifik, semakin khusus aspek yang diukur,
semakin tinggi ketepatan. Deskripsi
profil kepribadian dan kemampuan tiap
individu harus integratif, menggabungkan
dari berbagai aspek yang terukur dari
tiap alat tes.
Kembali ke soal 4 elemen
Itu teori lama, dari Hippocrates.
Oleh Galen, baru ada istilah yang populer:
Koleris, Sanguin, Phlegmatis, Melankolis
http://en.wikipedia.org/wiki/Four_humours
Juga itu nyambung ke 16 tipe kepribadian
berdasarkan MBTI, teori Carl Gustav Jung
yang merupakan kombinasi dari pembawaan,
cara belajar, rasio-emosi, dan persepsi:
-Pembawaan: Ekstrovert atau Introvert
(Aktif, ceria, gaul, talk a lot ATAU
pasif, pendiam, observer, think a lot)
E atau I
-Cara belajar: Sensing atau Intuition
(Dengan data dan fakta ATAU insting)
S atau N
-Rasio-emosi: Thinking atau Feeling
(Kecenderungan otak kiri ATAU kanan)
T atau F
-Persepsi: Judging atau Perceiving
(Teratur, dengan rencana ATAU spontan, bebas)
J atau P
http://en.wikipedia.org/wiki/MBTI
Nice… so you know a lot of theory.
Anda termasuk yang mana?
"ISTJ… , introvert, cenderung analisa dari
data dan fakta, lebih memakai rasio dan
bekerja dengan rencana."
OK… tau teori apa lagi?
"Tiga tipe gaya belajar, dari NLP
(Neuro Linguistic Programming), gaya belajar
dan kepribadian bisa dilihat dari gerakan
bola mata… Ada tiga tipe, visual, Audio
dan Kinestetik… bla..bla…"
http://en.wikipedia.org/wiki/Neuro-linguistic_programming
Akhirnya… wawancara yang lebih seperti
kuliah itu, kelar…
6.) We can offer you gaji segini, mau?
"OK, kalau kamu bersedia… di tempat ini
kamu bisa mulai kerja awal bulan.
Dengan tawaran gaji… sekian."
(Masih dengan ekspresi enggan, duduk
dengan kaki menyilang, sesekali ngelihat
ke jam tangannya, bicara dengan nada seolah
nggak terlalu butuh karyawan baru)
Silent…
I was thinking, juga karena
few days ago at that day, ada panggilan
wawancara kedua by the company where
I am now.
"Bersedia?" dengan tampang makin …
he smiled and was looking at me
as if I’m the one who really need and
beg for a job, as if this is the only
office in all around the earth.
I won’t work with an employer who
I can’t respect! The way he asked me
questions, it sucks! Sorry… I change
my mind. Lagipula, angka yang dia tawarin,
below my expectation.
I snubbed him "Saya pikir-pikir dulu
(that means: NO!) Karena saat ini sudah
ada panggilan wawancara di tempat lain
(the company where I work now), nanti
kalau di sana saya nggak dapet
atau di semua tempat yang sudah saya
apply, nggak juga ada yang nerima,
baru saya coba lagi ke sini (I will never
work with you!)."
So politely kita salaman, basa-basi lalu
pamitan… he’s a bit disappointed,
I can see from his ‘trying to be cool’
visage expression…
"Ya nanti, saya akan informasikan."
I close his door, walk out
from ‘his palace’ And… I didn’t regret it!
Besoknya, setelah positif diterima di
tempat yang sekarang, I sent e-mail
ngasih tau ke staf-nya, intinya:
"I’m off with that application.
I have found the right company that
offered me a better salary too."
Story #4
Setelah kerja di tempat ini (Read again:
Hey boss, blog sebelumnya) sempat
kepikiran untuk pindah.
Surat lamaran yang ke WORLD BANK sebagai
penerjemah, diterima, dites dan nggak lolos
untuk seleksi berikut (baca juga di blog
sebelumnya)
I want a job which can makes me use all
my talent. My english, for precise.
Selain my writing and presentation skill.
Sempet kepikiran untuk apply jadi Translator
di PBB, but they want 5 years experience
of working and English is a must, harus
bisa french or spanish juga.
http://unicef.org/about/employ/index.html
"Io sto imparando spagnolo, dopo italiano.
In quattro anni, io sarò maestro nelle lingue."
"I am learning spanish, after italian.
In four years, I’ll be master in the languages."
"Yo estoy aprendiendo español, despues italiano.
En cuatro años, yo sero maestro en las lenguas."
Juga ada teman ngajakin ke JobsDB.com
si Peter, sekarang dia pindah situ
dan rekomendasiin gue langsung ke bosnya
untuk rekrut gue sebagai editor untuk
situs mereka, juga bantuin jadi shadow-writer
(penulis yang disuruh penulis senior-the boss,
untuk ngetikin naskah, pas jadi buku hanya
dapat upah dan ucapan terima kasih,
nama tercantum di buku tapi dalam ukuran
font super kecil)
Tapi daerah Slipi macet, juga nggak ada
kejelasan soal berapa gaji yang mereka
bisa tawarkan. Ya, gue ulur2 waktu aja…
Males juga dateng jauh2 tapi nggak
pernah ketemu angka yang memuaskan
masing2 pihak, hasil tes dan
wawancara udah OK tinggal masalah
jumlah rupiah-nya aja.
"OK.. kita bicarain lagi bulan Juni,
masih ada proyek di kantor lama yang
harus saya selesaiin dulu."
That’s how I give them hope. If you don’t
pursue me, that means… you don’t
really need me.
Story #5
Akhirnya untuk sekarang, I decided to stay
di tempat yang ini. Karena:
- My boss really needs me, can convince me
that the company is developing and
I will be given a bigger role.
- I’m showing her my gratitude, meski belum
sampai nerima tawaran bantuannya saat
kebanjiran.
- Here, I learn to be the leader. Di tempat
lain, I will only be an employee.
- For now, I think that this is the best
place where I can self-actualize myself.
- Nice salary, apalagi if I’m promoted.
But won’t be enough karena akan makin
banyak kebutuhan dan harga2 terus naik.
- I can have fun all day, listening MP3
and play games. Kalo ada waktu luang,
baru ngerjain tulisan. Apalagi di sini
banyak waktu luang (baca baik2, ngerti?)
- Friendly colleagues. They’re nice
and we can cooperate for the mutual goal.
- I earn respect as well as I give to
the others working with me and the boss.
Oh ya, kalau ada waktu luang, I can read
books dan juga nulis BLOG, just as
I’ve just finished today. I can still have
time, untuk bisa belajar italiano and
español, bahkan bisa nulis puisi. Bahkan
bisa sambil mikirin mau nulis SMS
tentang apa dan untuk siapa… hmmm…
Di kantor lain, belum tentu bisa…
But one day, I’ll try to apply as Translator,
juga sambil sekarang… nyiapin naskah buku.
Masih ada banyak keinginan… belajar
konsep dan teknik dasar disain grafis,
juga computer programming, kapan ya ada
waktu luang?
So far, segitu dulu… Next BLOG,
adalah tentang … any idea?
+ yoDi +
"Hehe… jadi belajar psikologi ya?"