Archive for March, 2007

Responsibilty

Friday, March 30th, 2007

A friend who entered an essay competition wrote this.

I will publish it here, regardless she will win or not.
Why? Cause I’ve given her some ideas to be written.

===
Responsibility Begins With Me

“Be the change you want to see in the world.”
- Mahatma Gandhi -

“If everyone sweeps in front of his own door,
the whole world will be clean.”

- Johann Wolfgang von Goethe -

Responsibility is often regarded as a burden, but here I discover
that it is actually a great source of personal power.
It is the key to taking charge of my life.

Some related definitions of responsibility as referred in Oxford dictionary :
- Response: answer, reaction
- Ability: skill, power (to do something)
- Responsible: having to carry out a duty, to be blamed for loss or failure, can be relied on
- Responsibility: the power to answer or react

To conclude, responsibility is taking care of our duties
and answering for our actions. For me, being responsible is
far more than to understand its meaning. Responsibility is also
a matter of heart and hand. Heart, to sense and feel responsibility
as part of ourselves. Hand, to actualize the essence of responsibility
through our actions. As an individual, I believe that
each of us is a part of our society and nation.

As a long journey starts with one step, so does being responsible
towards our society and nation should start by first being responsible to ourselves.

Responsibility begins with me. A very simple lesson of being responsible happened in the year 2006.

2006 was a year of learning for me. A busy year, where I started
to be involved in Student Senate and its activities. Spending nearly 9 to 12 hours almost every day at campus for studying and attending Senate acitivity meetings really absorbed my whole life during weekdays. During weekends, church ministry
and having fun with my friends back home were my priorities. It went through like that for almost a year, when I realized how big the gap between me and my family had grown. I didn’t have time anymore to spend with my parents and sister, skipped a lot of family gatherings, and put my busy activities as my number one priority, as a form of mere self-pleasing actualization.

Although they fully supported me and never complained,
somehow later my heart knew that something was wrong.
Family should always be the second priority after God.
I then decided, that responsibility should begin with me.
I should take the initiative to fix my relationship with my family.
Not by forgetting my responsibility in church during weekends,
but to balance the time and part that I should give proportionally to both of them.

At that point, I began to realize and understand
deeper that my calling and purpose in life is not to become busy,
but to become fruitful. My calling is to pay responsibility
to the 4 elements I have in life now : family, academic study,
church ministry and campus organization. It is my duty to balance
all of them according to the right priorities. Thus,  my responsibility is also to give the best in my current season of life now.
It reminds me to my favourite verse from the bible :

“Whatever you do, work at it with all your heart, as working for the Lord, not for men, since you know that you will receive an inheritance from the Lord as a reward.
It is the Lord Christ you are serving”.
(Colossians 3:23-24)

I believe that the root of responsibility itself is to be responsible
to God for the life He has given us. Fulfilling my calling and purpose
of life is my first responsibility. I have a vision, that one day I will become a woman of God that has a positive impact through my faith, character and knowledge on every person with whom I come in contact, and therefore make changes for Indonesia especially in the field of youth and women empowerment. It is an important thing for me to look clearly towards my vision, and to commit myself to walk one step closer to it each day. I believe that having a clear vision is one of the process to being mature.

The core of maturity is responsibility.
I learned that a greater capacity of life always comes
with greater responsibility.

As Winston Churchill once said : The price of greatness is reponsibility.

Again, this relates to a bible verse as written in
1 Corrinthians 13 : 11 : "When I was a child, I spoke as a child,
I understood as a child, I thought as a child; but when I became a man, I put away childish things."

I will have to admit that the process to being mature is not that simple, as I can still be childish at times too. However, as we all have to learn to become mature in all aspects of life, so am I obliged to become more mature in life through responsibility that begins with me. Therefore, I am trying to balance personal growth in spiritual, emotional and intellectual aspect through every day learning.

At the end, being responsible is always a choice, a decision to be made. Implementing responsibility is a life-time process of learning
in the school of life. And we must not let ourselves fail in this subject!

Responsibility begins with me. And a beginning will always have a goal. In this case, the goal is : the glory of God!

Philippians 4:13
I can do everything through Him who gives me strength.

Catherine Susantio
Undergraduate Student
Pelita Harapan University, Faculty of Law

===

I pray that you’ll earn the best result!

+ yoDi +

Impulsive buying

Thursday, March 29th, 2007

I went shopping yesterday,
karena kalo pulang pun jalanan
masih macet. So I entered and
start looking around.

Ada kios makanan instan,
SUPER BUBUR, "Satu lagi dari …"

www.mayora.com

Ada kios kecil, SPG satu dikepung
orang-orang kelaperan. Bagi2 sample
dalam mangkok kecil seukuran cup
untuk es krim, ramai pengunjung yang
mau nyoba (walau nggak semuanya
mau beli)

Juga ada promo, beli tiga dapat
satu buah mangkok beling.

So I bought that!

Amazing, I didn’t plan that karena
itu kan produk baru.

But I felt … satisified to buy
that. Why?

Mungkin benar kata Bo Derek:

If you think money can’t buy you
happiness, it’s because you don’t
know where to go shopping

(Kurang lebih gitu kutipannya)

Belanja, apalagi di saat ada
diskon, limited edition atau ada
bonus, bisa memberi rasa senang.

Seolah ada keuntungan atau manfaat
yang bisa mengisi atau menggantikan
keresahan (restlessness).

Itulah impulsive buying atau
belanja
spontan, mengikuti kata hati.

Beda dengan ilmu ekonomi, yang katanya:

"Belanja karena kebutuhan, sebuah
proses konsumsi, menghabiskan nilai
guna suatu barang. Terjadi melalui
proses pengambilan keputusan yang
rasional, membandingkan harga dengan
manfaat; juga kualitas dari merk2
yang ada."

Tapi ada teori baru dalam psikologi
dan nyambung juga ke marketing:

Orang belanja bukan karena KEBUTUHAN
tapi
KEINGINAN, mendapatkan KEPUASAN.

Ada rasa senang ketika bisa membeli
hal yang kelihatan enak, keren,
menyenangkan, bagus, murah-meriah, dll.

Padahal saat itu belum tentu sesuai
dengan KEBUTUHAN atau RENCANA.
Bahkan tak ada di
DAFTAR BELANJA!

Emosi yang lebih berperan ketimbang
rasio
"I want it, must buy it now."

Proses mikirnya instan, nggak lama,
bahkan ada rasa resah ketika harus
pergi dari sana tanpa membeli.

"Kapan lagi ada tawaran seperti itu?"

Beda dengan konsumtif, atau pemborosan.
Impulsive buying
bukanlah belanja
yang BERLEBIHAN
. Hanya saja belum
terlalu dibutuhkan, tapi jadi mau beli
hanya karena… shopping can be
FUN.

Impulsive buying dapat dipicu oleh:

- Iklan, melalui berbagai media
- Tawaran on the spot, saat di
tempat belanja
- Diskon khusus, waktu terbatas
- Edisi khusus
- Bonus, beli 2 gratis 1, atau
suvenir yang menggoda.
- Ajakan teman, word of mouth,
atau oleh
SETH GODIN, disebut IDEA VIRUS

=

I remembered, setiap naik bus umum
(yang bukan
busway, sehingga banyak
pengamen dan pedagang asongan bisa
nimbrung memeriahkan suasana)
Ada aja yang nawarin, minuman,
senter, pisau dapur, kacang, majalah,
buku, batu batere, gunting kuku,
apa aja ada deh.

Cara nawarinnya: barang dibagiin dulu
sehingga setiap penumpang merasa
sudah memilikinya di genggaman tangan.
Lalu barulah si penjual berorasi

"…kapan lagi, besok belum tentu
naik bus yang sama kita bisa ketemu,
harganya hanya …"

Sometimes I buy snack or majalah,
tapi pernah tergoda beli kalkulator
seharga 10ribu. Yang scientific, bukan
yang hanya jumlah2an untuk kasir.
Ada berbagai rumus sin, cos, tan,
logaritma, bilangan basis, dll.

How cheap, yeah produk RRC sih…
Tapi lumayan, so I exchange my cash
with alat hitung yang sampai sekarang
belum pernah dikeluarkan dari kardusnya,
tersimpan di laci.

Ha!

I can count in my head jika angkanya
nggak terlalu sulit, atau pakai
menu di HP. Rumus2 itu, I didn’t use
it. Probably akan ngasih ke keponakan
(anak sepupu) yang masih sekolah… atau
son of my sister yang 29 April nanti
pas setahun. Haha, berapa lama lagi?

But I never regret the purchase.
Karena harganya murah dan rasanya
itu suatu saat akan berguna dan emang
bener, jika naik bus itu lagi besok,
belum tentu ketemu dengan si penjual.

=

I also remember, tiap Valentine
Mal akan penuh warna pink, dan tiap
produsen
cokelat akan mengerahkan
banyak SPG menawarkan paket:
Beli 3 batang, boleh pilih hadiah
bunga mawar atau boneka.

It works, seperti melempar batu-bata
dan mendapatkan permata giok.
That’s a Chinese proverb…

Also another proverb: Tempalah besi
ketika masih
panas, taburlah benih
sebelum musim
dingin.

Promosi yang efektif harus lihat
si-kon. Sesuaikan dengan momen!

Jual kartu Natal sejak
November. Ganti dekorasi Imlek
di Januari, cupid dan hati di Februari,
Maret dan April: Spring Sale
(yah, dibikin jadi ada) atau Paskah,
Juni-Juli buat diskon untuk produk alat
tulis dan buku pelajaran,
Agustus ganti dekor
merah-putih,
September… buat aja jadi serba
ceria. Oktober, biasanya
halloween,
November untuk thanks-giving,
dan
Christmas lagi. Desember, end year sale.
Sedangkan
Lebaran, tiap tahun selalu
bergeser 11 hari lebih awal.

=

Ternyata setiap saat diskon selalu
ada. Itu sebabnya juga, setiap saat
kita selalu tergoda untuk belanja.

+ yoDi +

The journey … il viaggio

Wednesday, March 28th, 2007

The journey

A thousand mile
From the island far away
A wave of hand and smile
I wish to send your eyes today

A better day
From the night I lost sleep
A wisdom and pray
I received and endure to keep

A grand house of wish
From each days to graduation
A dream starts to establish
I lay bricks of supplication

A sunny bright future
From each chapters to spotlight
A glance to the big picture
I plant each pages by night

A new language we’ll talk
From a-b-c to fluent pen
A whisper to where you walk
I will learn it from you then

=

Il viaggio

Una poesia ho scritto qui
Da lontano ti pensavo
Solo daro per tuoi ochi
Un saluto poi sorridevo

Una nuova mattina
Da tristezza non piango piu
Solo parole da te, carina
Un tesoro, sempre sei tu

Una gloriosa speranza
Da i giorni che ne tu stai
Solo in te, la grandezza
Un maestro so tu sarai

Una pagina ogni notte
Da le sentenze a capitolo
Solo chiaro, luce da te
Un futuro ci scriverlo

Una lingua nuova
Da me questa ascolterai
Solo posso ‘Bonjour. Ca va?’
Un giorno piu mi insegnerai

+ yoDi +

So… you wanna be an actor?

Wednesday, March 28th, 2007

How to act?

Ini lanjutan dari sebelumnya, tentang pengembangan
karakter. Buatlah profil:

Motivation & will
Apa tujuan utama si karakter?

Temperament
Sanguin, Koleris, Melankolis, Plegmatis?

Jenis manusia apa? based on Spranger typhology

- teori
Intelek, pinter, bahasanya berat

- ekonomi
Materialistik, yang utama duit..duit..

- estetik
Artistik, puitis, musikal, harmoni

- agama
Religius, alim, taat, fanatik

- sosial
Suka menolong, tidak egois, murah hati

- kuasa
Mengejar ambisi dan jabatan, ingin dihormati

Lalu…

Status: Seperti di Friendster aja

Religion: Kadang nggak gitu penting, tapi
bisa jadi bumbu, atau penting jika memang
kisahnya religius

Profession: sekolah, kuliah, kerja?
Seberapa pintar atau sukses?

Habit
Apa ciri khas dan kebiasaannya yang unik?

Trauma
Hal-hal yang belum terungkap, bahkan mungkin
disangkali oleh si karakter karena…

Family
Berapa jumlah saudara, utuh atau broken home,
dekat/akrab dengan siapa?

Culture &Ethnic
Budaya yang ia anut, kategori ras

Outfit
Dandanannya formal, funky, ikutin trend atau nerd?

Hobby
Apa aja?

Gesture
Gerakan tubuh yang jadi ciri khas

Value
Hal-hal yang diyakini dan dianggap penting

Language used by the character:
formal, casual, poetic, scientific,
jargon (insider talk), slang?

Penjiwaan
Harus dilatih! Jangan hanya ngandelin kostum

EXERCISE, gimana?

- Agility
Latih kelenturan otot badan, kaki-tangan, dll
dengan senam, yoga, stretching, supaya gerakan
luwes saat di panggung

- Facial expression
Latih mimik, gerak alis, bola mata, bibir;
coba tampilkan berbagai emosi

- Voice: articulation, tone,
Harus jelas, latih dengan eja setiap abjad.
Lalu latih memberi warna pada dialog.

Contoh: Kamu dari mana?
Ucapkan dengan emosi berbeda:
=Senang, karena sudah lama tak bertemu
=Sinis dan galak, seperti ortu interogasi anak
=Sedih, karena yang ditanya terlambat datang
dan mengakibatkan … (ayo imajinasi sendiri)

- Breathing
Bagi penyanyi, diajarkan kumpulin udara di
diafragma (antara paru-paru dan perut), bagi
para pemeran teater, coba bawa semua oksigen
ke perut, supaya suara lantang (meski nanti
dibantu mikrofon) dan tak ngos-ngosan sehingga
dialog jadi terputus; atau pemenggalannya salah
sehingga maknanya jadi beda.

- Observe
Sebelum dapet peran, perhatiin orang lain yang
benar2 berprofesi seperti itu. Coba jalan2 ke
berbagai Mal, pasar, dll perhatiin interaksi
tiap orang, tebak karakter mereka dan seperti
apa kedekatan hubungannya.

- Dubbing
Latih olah vokal, dengan ikutan drama radio,
atau jadi dubber; supaya bisa tampilin
variasi emosi lewat suara.

- Pantomime
Latih olah gerak, coba peragakan sesuatu dan
minta orang lain tebak. Perkuat dengan ekspresi
wajah tapi tanpa boleh ada dialog.

- Body language
Latih gerakan yang pas dengan imajinasi,
saat membaca dialog kira2 akan seperti apa nanti
ketika on-stage?

- Exclamation
Coba latih kata ‘Oh’ ‘hah’ ‘aw’ atau apapun yang
tanpa makna, tapi tambahkan emosi. Ingat lagi
tiga emosi dasar: happy, angry, sad.

How to explore emotion?

Ini beberapa contoh para pemeran yang
(subjectively, my choice) hebat dalam
mengeksplorasi emosi:

- Al Pacino
Saat jadi Shylock di Merchant of Venice.
Kamera hanya ambil punggungnya, dia nangis
nyaris tak bersuara, tapi tengkuk dan badan
bergetar. Wajah ditutupi gaun yang ia bawa
untuk kado ultah anaknya yang baru aja kawin-lari.
Sesudah itu kamera mengikuti dia keluar dari kamar,
dan mengarah ke bagian depan gaun yang sudah basah.

- Clint Eastwood
Pelatih tinju di Million dollar baby,
ketika dengan pastur hendak pengakuan dosa,
bingung apakah harus euthanasia anak didiknya atau
biarin hidup tapi menderita. Badan dan lengannya
gemetar, suara tertahan, nunduk dan tiba-tiba
hidungnya sudah penuh ingus meleleh hingga ke mulut,
tanpa dihapus dan matanya basah, berusaha nahan
agar tidak meledak tangisnya dan berkata berulang-ulang
"What should I do, father?"

Di situ kelihatan intensitas emosi, nggak klise!
Sedih nggak selamanya harus meratap…

- Viggo Mortensen
Saat menemukan tumpukan mayat para Orc, sebagai
Aragorn, dia menyangka para hobbit sudah mati juga
(Lord Of The Rings), kemarahannya diekspresikan
dengan menendang helm milik Orc lalu jatuh terduduk,
teriak sekeras-kerasnya.

- Johnny Depp
Kocak, gila dan freak. Sebagai kapten Jack Sparrow
di Pirates of Carribean, atau jadi Willy Wonka.
Sebagai bajak laut, licik banget!
Sebagai pemilik pabrik kesepian dan masa kecil
kurang bahagia, kelihatan punya trauma.
Tapi lebih kalem dan waras di Finding Neverland.

OK… hope you learn from them.

+ yoDi +

How to become sript-writer

Monday, March 26th, 2007

I watched our sinetron, it was…

(>_<) !!

As a renaissance man, I must never
just plainly say ‘good’ or ‘bad’

The storyline… not so clear

The characters, nggak konsisten

Dialog dan adegan banyak yang ekstrim,
diulang-ulang. Ekspresi emosi marah
terlalu… over! In daily life, kadang
diam dan hanya dengan menjawab singkat
aja bisa menunjukkan marah, tanpa harus
berteriak "Saya marah!!!"

Teknik kameranya, ini sudah klise…
banyak adegan close-up ke muka,
menjelang ganti scene… akan melambat
lalu dua tokoh disorot bergantian
secara ECU (Extreme close up)
saling melotot dan mulut mangap…
jreng! iklan deh… cape deh…

So I write this… gei ni,
semoga bisa membantu buat naskah
untuk tugas kuliah, atau siapapun
yang butuh teori dasar penulsan
skenario.

- Tema dan pesan
- Karakter
- Plot
- Setting
- Jalan cerita
- Genre

TEMA DAN PESAN

Yang pertama ‘judul’ dan apa yang
mau disampaikan? Bisakah dirangkum
hanya dalam satu kalimat?

Pengembangan KARAKTER:

Buat profil dari tiap karakter, dan
gimana hubungan antar tokoh.

Kebiasaan, aksen, gaya bicara,
kepribadian (berdasarkan 4 tipe
temperamen), penampilan, dandanan,
usia, latar belakang sos-ek-bud dan
pendidikan.

Itu akan menentukan gimana nanti dia
ditampilkan:

-Apakah bicara lancar atau patah2?
-Kalem atau meledak-ledak?
-Kalimat panjang dengan berbagai
istilah yang ilmiah, artistik…
atau simple and short?
-Apakah banyak kata makian atau sopan?
-Gaya jalan tegap atau terbungkuk,
ringan atau berwibawa?
-Apa punchline (kalimat yang sering
diucapkan dan jadi ciri khas) si
karakter?

PLOT

Yang umum ada beberapa tahap
- Perkenalan, tiap karakter.
Lalu muncul sidekick (peran pembantu,
seperti Robin-nya Batman, atau
Ron dan Hermione untuk Harry Potter),
tokoh netral, dan antagonis.
- Muncul masalah, perbedaan kepentingan
atau disebut … KONFLIK!
- Klimaks, atau puncak dari konflik

Di sini, bedanya dengan cerpen,
setelah itu langsung ke penyelesaian.
Tapi untuk cerita berseri atau film,
bisa naik-turun atau konflik selesai
muncul masalah baru, dll. Atau bahkan
bisa juga ending-nya gantung.

- Penyelesaian. "And they live
happily ever after."

Buat pertanyaan:

Siapa tokohnya? apa harapan dan cita2nya?
Siapa yang akan membantunya?
Bagaimana cara dia mencapainya?

Siapa musuhnya? mengapa ada persaingan
atau dendam?

Ungkapkan pelan2 di tiap babak.

Lalu seperti apa konfliknya?
Siapa yang akhirnya menang?

Ciptakan ketegangan, make it as…
unfinished di tiap babak.

Perubahan karakter

"Dari yang semula …, bisa jadi …"

Itu semua nggak bisa instan! Butuh
proses dan berbagai peristiwa, melalui
tiap kejadian itulah karakter semakin
matang dan berubah.

DIALOG

Jelaskan tiap scene dan kalimat
tiap tokoh dengan visualisasi dari tiap
emosi yang dialami.

Buat itu dinamis!

Nggak selamanya marah harus terus
teriak hingga urat leher keluar,
lalu membuka mulut dengan sederet
gigi tajam seperti hiu
dan mata membelalak as a goldfish.

Atau tertawa terbahak-bahak tanpa henti.
Variasikan… terkekeh, mengikik seperti
kuda, atau … you create it!

Atau nangis dengan meraung-raung.
Ada juga yang nangis diam, dan bantal
kemudian basah. Atau berusaha tetap
tegar, tapi dialognya jadi tersendat
dan ada ‘hiks… hiks…" lalu untuk
nutupin, "Ah, aku baik2 aja…"

Jelaskan pergerakan tiap tokoh, mimik
mukanya, gerakan tangan, tekanan suara,
aksen, dll.

SETTING

Jelaskan kapan, dimana, ada peristiwa
apa, mengapa si tokoh ada di situ:

- Kostum dan make-up
- Panggung dan backdrop (lukisan
sebagai ilustrasi dari lokasi)
- Properti (peralatan yang mendukung,
misalnya: Robin Hood, harus ada
panah dan busur) dan dekorasi

Think about it! Imagine and make it
real dengan penjiwaan dari para
pemeran.

Jalan cerita:

Setelah jelas siapa protagonist,
sidekick, neutral dan antagonist;
biasanya jalan cerita akan seperti:

- From zero to hero (heroic story)
Dari culun, ketemu master, dilatih
dan jadi jago melebihi gurunya.
- Yang baik menang melawan yang jahat
(good vs evil)
- Awalnya mereka nggak kompak,
tapi baru sadar dengan kerja-sama,
akhirnya jadi bisa menang
(Cooperation)
- Awalnya hubungan hanya sebatas
pelatih/guru dengan murid; lama2
jadi mempengaruhi kehidupan bahkan
menjadi inspirasi
(Mentoring)
- Dan ini klise di film Indonesia…
salah satu tokoh penting dimatiin,
karena penyakit, dibunuh atau
kecelakaan lalulintas. Atau ketika
hampir mati, butuh donor organ tubuh,
ada yang rela nyumbangin
(Sacrifice)
- Atau termotivasi oleh
dendam,
tokoh utama bertekad membunuh
orang yang menghabisi keluarga
dan gurunya (khas film silat mandarin
banget nih!) tapi akhirnya sadar
dendam nggak akan ada habisnya,
si penjahat dibiarin hidup, dimaafin,
kemudian dia jadi berkelana memberantas
kejahatan.
- Di tengah cerita, muncul karakter
baru yang nantinya akan ngejelasin
apa makna semua ini (khas film
horor atau misteri)
‘the key character’
- Atau karakter
‘the wise person’
yang menjelang akhir baru muncul
akan memberi pesan penting bagi
para penonton secara langsung
atau bicara kepada para tokohnya.
- Ada
pengkhianatan, yang baik jadi
jahat. Atau sebaliknya, yang jahat
jadi insyaf gabung ke kelompok baik.
- Dari nggak suka jadi suka
(romantic)
Atau awalnya temen biasa, saling
sebel tapi malah jadi cinta.
- Dll

GENRE

Atau jenis teaternya, apakah klasik
(dengan musik, dialog puitis atau
dinyanyikan, kisah fantasi)

Atau kontemporer (musik sebagai latar,
dialog seperti orang bicara biasa,
kisahnya juga realistis)

Drama, tragedi, komedi?

Oh ya, juga gaya bercerita, apakah:

THIRD PERSON part of the story.
Narasi dari orang yang biasanya
sidekick atau saksi sejarah,
tokoh ini ada dalam perkembangan
cerita tapi sama-sama belum tau
ending-nya.

THIRD PERSON, know it all.
Bedanya dia bukan orang yang mengikuti
(present continous)
tapi telah menyelesaikan kisahnya
(present perfect)

FIRST PERSON, narasi suara dari
tokoh utama, juga dibedakan dua jenis
seperti THIRD PERSON.

Tanpa narasi. Perlu penjelasan?

Last… apa yang membuat sebuah
kisah menarik, tidak membosankan
dan bisa disebut karya yang bagus?

- Tidak mudah ditebak jalan ceritanya

- Mampu menggugah karena ada pesan yang
terselip di dalamnya

Ada jawaban lain?

"The world is a stage of theatre
and we are all actors in it."
(William Shakespeare)

I want to add…

"And make GOD as your script-writer…"

Good luck with your task!

+ yoDi +

IL DIVO and another story of being renaissance

Tuesday, March 20th, 2007

Why do you like them?
Why do I buy a woman magazine
yang ada artikel tentang mereka?

Maybe the basic question,
who are those guys?

They’re not a bunch of gig***s,
surely! certamente! ciertamente!

Or you might wanna ask: Why suddenly
I wanna write about them?

Last year, I met a new friend.
We walked and lihat2 di toko kaset.
Album ketiga
SIEMPRE baru aja rilis.
FYI album pertama IL DIVO,
yang kedua:
ANCORA / ENCORE

I took it, wanna show it to her and
a short unpleasant comment came from
her lips, before my explanation.

Ooooh… a big turn off!

But then I ‘introduce’ of who
they really are, once 4 of them are
solo singers each, united by Simon Cowell.
They sing opera and classic, with pop
combined. A bit slow-rock too.

http://www.ildivo.com/news/index.html

The pioneer with bariton is Carlos Marin,
German but speaks Spanish too.

The tenor is from Switzerland, Urs Buhler,
he was at Holland as church choir member.

The American, David Miller often sings
at theatre and opera shows.

And Sebastien Izambard, french,
penyanyi otodidak, pencipta lagu juga.

http://en.wikipedia.org/wiki/Carlos_Marin

http://en.wikipedia.org/wiki/Urs_B%C3%BChler

http://en.wikipedia.org/wiki/David_Miller_%28singer%29

http://es.wikipedia.org/wiki/Sebastien_Izambard

They’re all creative, professional
dan kebetulan… good looking guys.
But all of them, from what I read,
masing-masing sudah berkeluarga.
Bahkan ada satu album rohani,
kumpulan lagu2 Natal.

And I admire them, for the sake of
their musicality, voices and lyrics.
I don’t put their poster
on my wall, not chasing their signatures
as celebrity-worshippers did.

BUT… I do have some respect and
admiration for them. I listen and enjoy
their songs. I’m not their PR,
promotor or ‘defender’.

http://en.wikipedia.org/wiki/Il_Divo

=

I bought CHIC, magazine for female.
Only for one edition yang ada artikel tentang mereka.

I like to compare each style of writing
from various printed media company.
From there I also learn how to write
with several manners tailored to the
segmentation of readers.

Is that a problem?

NO

A Jazz musician, Indra Lesmana, once
admitted he listens to many kinds of
music: opera, classic, ballad, reggae,
salsa, pop, rock, heavy-metal, even
dangdut!

My friend, Jefry Firdaus, a graphic-design
student… He’s addicted to draw
with manga style. But he also enjoy
experimenting with art nouveau, art deco,
pencil sketch. Also eager to learn
how to make American-style comic,
such as from Marvel and DC.

http://en.wikipedia.org/wiki/Art_nouveau

http://en.wikipedia.org/wiki/Art_deco

http://en.wikipedia.org/wiki/Sketch_%28drawing%29

http://en.wikipedia.org/wiki/Marvel_comic

http://en.wikipedia.org/wiki/DC_Comic

Oh yeah, draw a bit far behind…
He’s fascinated with cubism by
Picasso, surrealism of Dali,
the impressionism from Van Gogh
and the technique of Chiaro-oscuro by
Leonardo Da Vinci.

http://en.wikipedia.org/wiki/Cubism

http://en.wikipedia.org/wiki/Surrealism

http://en.wikipedia.org/wiki/Van_Gogh

http://en.wikipedia.org/wiki/Da_vinci

What’s wrong with that?

"If you don’t get out of the box
you’ve been raised in, you won’t
understand how much bigger the world is."
(Angelina Jolie)

I wrote many times, from scientific
reports for college, articles for
magazines, reader’s voice expressing
my opinion, blogs too. I even wrote
in postcards, personal messages, letters,
and SMS.

Each media has uniqueness. I must adjust
my style in different magazines.

But the basic ingredient are the same…
alphabet!

So does painter… the basic colors
are:
red, blue and yellow. Combined
with black (grade of darkness),
many many colors can be invented.
Not to forget the hue, saturation
and contrast. If you learned
graphic design, you knew better those!

http://en.wikipedia.org/wiki/Hue

http://en.wikipedia.org/wiki/Saturation_%28color_theory%29

http://en.wikipedia.org/wiki/Contrast_%28vision%29

So does musician, they use musical
notations, arranged within tempo,
volume and composition of instruments.
Oh yeah, the lyrics which comes in
stanza, reffrain, bridge and coda.

http://en.wikipedia.org/wiki/Music

That’s creativity! All came from
the same basic things, with mastery
and artistic instinct, we can create
thousands of masterpieces.

A real artist must never make their
own category. It’s other, the viewers,
producers did the segmentation.

I wrote poetry, classic style.
Yet haiku is also interesting.

http://en.wikipedia.org/wiki/Haiku

I learn languages, which have the basic
common components:

- Alphabet (vowel and consonants)
- Words (Noun, adjective, adverb, etc)
- Grammar (to know the time condition)

Then more advance, learn about idioms,
slangs, jargons, taboo sayings,
proverbs, local folk-tale, etc.

The four methods are the same in
every language:
Listen, speak, read
and write.

Further, we’ll learn about accent
and dialect. Also same words which
have different meaning in another
country, which can make other smiled
and blushed in red, or feel offended;
though in text-book, you’re cocksure
that nothing wrong with that word.

Being renaissance… as a cultured
person. That’s what I’m delivering today.
Knowing the latest news, trend and
always have an open-mind.

http://en.wikipedia.org/wiki/Renaissance_man

It’s surprising if you still don’t know
IL DIVO after World Cup 2006.
With Toni Braxton, they performed the
official song, remember?

http://en.wikipedia.org/wiki/FIFA_World_Cup

=

Some people are just too accustomed
to what they did and feel it’s useless
to learn something new or which falls
in the category:

- It wasn’t my kind of stuff
- I’m just not suitable at it
- I have my own mindset.
- It’s not the same as what I believe

Etc

But for those of you, who still have
room in your mind and heart…

Always eager to know something, let’s
see from different perspective.
Don’t live in your own box then
judging others simply just by a glance.

Give comment freely, yeah…

But only after you had the basic
knowledge. Do not debate or try
to show you got something, not until
you knew it.

I always remember the very principle
of teaching method. It was in primary
school. Ada sisi positif dari gaya
belajar klasik:

Just shut up, listen, learn.

Then after you knew the basic thing,
have your own thought, make your personal
opinion… AFTER you have a grasp on it.

Always expand your horizon, read
various magazines, books, newspapers,
even if at the first place you may think
"It’s not for me, no thanks…"

If you’re frugal or too stingy,
read freely at local book-store.

When you’re evaluating something new,
NEVER just plainly said "Oh it’s good."
or "How nasty…" give explanation,
a review based on what you knew and
experienced.

Everything is unique, such as culture,
article, poetry, writing style,
music, movie or painting.

There shouldn’t be
any GOOD or BAD thing, just differences.
If it’s not your taste, then it doesn’t
mean it is bad for everybody.

AND… never, at any condition…
have a bad-mouth on something,
someone, or some music group,
even when you already listen and still
believing that: "It’s not my stuff
and won’t fit to my ear."

A lesson from IL DIVO, none of them
are pure italian, but they can sing
graciously
con la lingua. Only one
who talk Spanish and wasn’t by
his
nacionalidad; y tambien un frances
y americano.

But together, in harmony, they learn
each new language. AND… combined
with their artistic talent which GOD
has installed in each of their throats,
great arrangement of musicality,
dan tangan dingin dari produser
yang berlidah tajam, si juri paling nyolot
di American Idol…

Jadilah..

IL DIVO!

A good example for those who want
to be a ‘renaissance person’

I’m improving my Italiano and grew
my curiousity of Español through them.

=

Non è basta per solamente parlare
una lingua. Sfortunamente, qualche
persone ne stanno imparando italiano
solo per mi avvicinano senza essere serio
di migliorare l’abilita. Ecco perche non
avevano diventato mai di solamente
sapere per dire ‘buongiorno’ e ‘ciao’

Nggak cukup hanya ngomong satu bahasa.
Sayangnya, beberapa orang belajar
italiano hanya untuk mendekati gue
tanpa jadi serius untuk memperbaiki
kemampuannya. Itulah sebabnya mereka
nggak pernah berkembang dari hanya bisa bilang
’selamat siang’ dan ‘hi’ atau ‘good-bye’

No es basta para solamente hablar
una idioma. Disfortunamente, algunas
personas lo aprendendo
italiano
solo para mi acercan sin ser serio de
mejorar la habilidad. Aqui porque nunca
han desarrollado de solamente saber para decir
‘buenos dias’ y ‘hola’ o ‘adios’

=

+ yoDi +

Poetry: One more day

Thursday, March 15th, 2007

It was some years ago
When the leaves turned
yellow
I decided to go
With the shadows follow

It was another step I took
When the wind blew no more
I had read the gift book
With the rhymes encore

It is where I felt astray
When the time seems to restart
I wrote for one more day
With the void when we’re apart

It is a classic style of writing
When the pattern is a-b-a-b
I try to make it more exciting
With new language,
ho scritto, si!

Mille giorni hanno passato
Dalla primavera a autunno
Quando sono andato
Con le ombre seguono

Mille passi, prendo tutto
Dalla finestra non sento piu
Quando il libro ho letto
Con le rime senza sei tu

Mille strade sopra e giu
Dalla via ti trovero
Quando spero un giorno piu
Con il vuoto ti scrivero

Mille poesie scrivevo
Dalla mente in catena
Quando ancora ti trovo
Con il cuore era piena

So haiku I write
With constant mode syllable
Five-seven-five, right

So under my skin
With faith, hopes are possible
Love then grows within

So for one more day
With words flying on the air
I’ve caught them, my play

So far away, we
With dreams wanting to be there
And it is still me

yo se escribir
Desde libro estudio
¿Como es vivir?

yo puedo creer
Desde esperanza que
Como lo crecer

yo juego todas
Desde palabras luego
¿Como tu hablas?

yo te espero
Desde sueños otra vez
Como te quiero

=

With strength your wings spray
The earth waits to feel your step
Just for one more day

+ yoDi +

Customer service

Thursday, March 15th, 2007

Yesterday…

I had planned to buy four books.
I went to GRAMEDIA MKG,
yes I often hear their jingle
being played between popular songs.

It’s like a brain-washing process
for their store crews, bilingually
it carries the messages.

Go to the store and you’ll listen

"To serve you and see you smile,
To make you come and come again,
I’ll do anything to win the heart from now."

That day, I held two books on each hands.
I didn’t realize an attendant was
following me, soon as I moved them
all to the left, my right was reaching
the cell-phone in pocket.

Bingo!

It was a bit heavy, but the help
came at the right time.

He offer me to put all in a plastic
handbag. Then he smiled
"Selamat berbelanja…"

I replied with a smile "Terima kasih."

I remembered suddenly WHY WE BUY
written by Paco Underhill, about
customer service and guideline
for shop attendant.

In one of the chapter:

We only have two hands, when we
carry more than three items, it’s
getting more difficult. That was
the right moment to offer your
buyer a handbag or shopping-basket.

Rather than asking them to take it
since they entered. Probably they
will only want to buy one item,
they don’t feel MUST use a handbag
or basket.

But when it is offered at the right
occasion, it works like magic!

It is a common thing to feel gratified,
relief and glad to receive aid at
the time we really need it.

Also the positive emotion will create
trust. The attendant was watching
and knew when to interrupt the shopping
experience with a proper reason.

That is: to offer help, by giving
a handbag or basket.

With that, it even could triggers
shoppers to buy more. Or create
comfort which later on will make
them want to buy again from the same shop.
Oh, of course… the same basic,
to smile sincerely and thanks every
visitor, either they’re buying
or just to look-around and read freely.

An old Chinese proverb:

"Give the pillow to the sleepy person."

=

Then I walked to main entrance door
where J.Co is there.

I entered, simply because can’t
resist the temptation.

A store crew was standing offering
donut (yeah, what else?) freely to every
visitor passing in front of their
‘battle-field’

Some others were also attracted,
it made a mob of people, and…
as if bewitched, I stood in line
just to buy half dozen of Glazzy,
then I sat in one of their cozy sofa,
then order Capuccino over ice,
one donut free also. I didn’t finish
all, ate 4 out of 7.

The free donut was just a teaser.

I remember again a proverb:

"Throwing bricks, earning jade later."

They give away free product samples,
attract visitors to stop, try some
bites, then feel addicted to the
sweet taste.

=

Today…

I was at SOLARIA Gajah Mada Plaza.
A very unpleasant thing!

I wait half an hour, the menu
isn’t coming yet, since 12:30
I must return to the office.

So upsetly I approach the cashier
"Please, just give me back my money.
You don’t even give the small-change yet!
I can’t wait any longer, it’s one o’clock
and… I must return!"

Suddenly another waiter join our
‘little discussion’ tried to threw
the cold water but… it’s even worse.

"Makanannya sudah matang, masih mau
di-cancel?"

"OK… I give you one minute. Let me
see, if it’s really already done."

So I waited, but…

"Sory ladies, you lied to me!
Your one minute has gone, now…
please just let me leave, where’s
my cash?!"

Moral of the story:

- NEVER make your customer wait.
- NEVER make empty promise to cool
them. Just tell the truth.

AND…

Your service gives impact!

Happy customers will praise your
good work.

Impressed (and smart!) customers
will write review about its brilliant
strategy.

Angry customers will also spread
your ’stench-smelled’ service.

Again Chinese old saying

"Fine quality wine will spread
its nice aroma everywhere."

That’s all…

+ yoDi +

Solve your problem with six thinking hats

Saturday, March 10th, 2007

In previous BLOG, I wrote about
being an Alpha. Today we shall learn
how to do PROBLEM SOLVING, and
how to think.

Sebelumnya ada pertanyaan:

Bayangkan saat ini kita berada di
kamar mandi, ada sebuah bak mandi
(bath tub) yang airnya penuh dan
keran air dibiarkan terbuka.

Lalu Anda melihat ada empat buah
benda yang boleh digunakan:

- Sedotan minuman
- Sendok makan
- Cangkir kopi
- Gayung

TUGAS: Kosongkan air di bak mandi
itu secepat mungkin

Apa yang Anda pilih?
Pikir baik-baik karena itu menentukan
tingkat kecerdasan Anda.

Ya, ini tes serius…

+
+
Please
+
+
think
+
+
the
+
+
answer
+
+

Sebelumnya, ada enam proses dari
pemecahan masalah:

1. Tak menyadari masalah
2. Sadar ada masalah, tapi bingung
gimana cara mengatasinya
3. Mulai memikirkan cara-cara
mengatasi masalah itu
4. Bertindak, namun sadar bahwa
ternyata masalah itu bisa berulang
5. Mulai memikirkan cara mengatasi
jika masalah datang lagi
6. Menemukan cara antisipasi terhadap
masalah yang mungkin muncul; ATAU
menghentikan sumber masalah

Baca baik-baik… gunakan otak,
jangan hanya otot. Teliti juga, supaya
masalah benar-benar tuntas!

OK, here’s the correct answer:

Rasanya hanya orang gila, stres atau lugu
yang memakai sedotan, sendok atau cangkir.

Pakai gayung? Maybe, you’re right…

Tapi apa nggak capek?

Lihatlah masalah ke dasarnya,
every bath tub has a plug, jadi…
Cabut aja sumbatnya! UNPLUG!

Lalu weeeessssshhh… air terbuang
dengan cepat, beres kan?

Ingat, TUGAS tadi… mengosongkan bak mandi,
bukan memindahkan air.

Itulah bedanya orang yang kerja
menggunakan otot DENGAN yang pakai otak!

Hehe… ya, silahkan tertawa dulu.

Wakakakakz… siapa tuh yang ketawanya
kenceng banget?

OK… lanjut, serius lagi…

Tapi kalau jawaban hanya sampai
sini, you’re smart TAPI… tidak teliti!

Baca lagi 6 tahap tadi…
Simak baik-baik juga pertanyaannya.
Hmmm… ada apa?

Sumber masalahnya belum diatasi…
Keran airnya belum ditutup!
Akibatnya bak mandi tak akan bisa kosong.

Sreet…sreet… (bunyi keran diputar)

NAH! sekarang baru masalahnya selesai!

If you have a Bible, read AMSAL 19:2

Inget… lihat *DASAR* dari masalahnya,
temukan titik yang utama, ambil tindakan
dari situ lalu selidiki *SUMBER* dan
hentikan masalahnya!

Edward de Bono, a psychologist punya teori:

Cara berpikir lateral, yang disimbolkan
dengan 6 topi berwarna

http://en.wikipedia.org/wiki/Edward_De_Bono

Secara singkat:

Putih = fakta, netral, obyektif
Merah = opini, perasaan, emosi
Hitam = kritik, keraguan, pesimis
Kuning= harapan, sisi positif, optimis
Hijau = kreatif, inovasi, manfaat
Biru  = Integrasi dari semuanya, kesimpulan
hingga akhirnya memutuskan untuk bertindak

http://en.wikipedia.org/wiki/Six_Thinking_Hats

Ketika ada masalah cobalah rumuskan
dalam kalimat seperti ini:

WHITE BIANCO BLANCO BLANC
"Saya mengetahui bahwa masalahnya adalah
… dan itu disebabkan oleh …"

RED ROSSO ROJO ROGUE
"Hal itu membuat saya merasa …
menurut pendapat saya, hal itu …"

BLACK NERO NEGRO NOIRE
"Yang mengkhawatirkan adalah …
Saya tak ingin masalah ini menyebabkan …"

YELLOW GIALLO AMARILLO JAUNE
"Harapan saya adalah …
dan saya harus yakin bahwa …"

GREEN VERDE VERDE VERT
"Untuk mengatasinya, saya harus…
Dan strategi mengatasi masalahnya adalah …"

BLUE BLU AZUL BLEU
"Sekarang jelas, masalah ini ternyata…
Akhirnya, saya akan melakukan …"

+ yoDi +

My career… a long story…

Thursday, March 8th, 2007

Abraham Maslow once taught about several
needs as phases in our life.

The ultimate goal is to be someone
self-actualized.

It can be defined as:
- Achieve the ultimate purpose
- Funcitoned to the peak level
- Creating masterpiece
- Complete happiness

AKTUALISASI DIRI

Teorinya, hanya akan tercapai setelah
terpenuhinya 4 tingkat kebutuhan dalam
sebuah hirarki:

- Kebutuhan dasar, it’s all about
making money for living. From hand to mouth
(Idiom: Uang didapat di tangan hanya
sampai ke mulut, cukup makan aja)

- Rasa aman dan jaminan masa depan.
We’re thinking about saving and investment.
Secure in the career path and development.

- Love and affection, kebutuhan diterima
as a human being, mendapat perhatian dan
kasih sayang. It’s not about romance,
but in general. Platonic love.

- Self esteem, rasa berharga, dapat
pengakuan dan pujian untuk prestasi
atau hal positif yang telah dilakukan.

Barulah setelah itu …
Self actualization!

http://en.wikipedia.org/wiki/Abraham_Maslow

I remember my previous companies.
I will share you…

1. Why I resign from one, and move to another;
2. Why I didn’t accept offer from
‘monkey business’ office;
3. Why I refuse to join after an interview
meski sudah 99% diterima;
4. Why I consider of moving after working
for several months in a real company;
5. Why I decided to stay in my current company

I will make them anonymous…

Story #1

I started as journalist, with such an
irrational payment. Yet, I enjoyed, masih
kuliah, hitung2 cari pengalaman, lumayan
bisa beli pulsa dan makan siang.

But this company… need to learn more
to be professional. They often pay me
late melewati batas kewajaran. Biasanya
honor paling lambat tanggal 10 tiap bulan,
once pernah sampai 11 belum, I asked,
they said "Sabar..setelah tanggal 15 ini ya
(Januari 2007 -Red)."

Upsetly waiting, mereka baru setor tanggal 18,
nggak bohong kan? They didn’t say pas tanggal
15 but after… sampai malam final Piala Dunia
2010 pun, masih tetap benar,
karena nggak ada batas waktu yang jelas.

Kebutuhan dan tuntutan hidup terus nambah,
impossible to rely on this company.
Thank you for the experiences
and the lesson that I learned myself after
4 years serving GOD with my talent there.
Juga untuk Mr.Peter Julio Tarigan, senior reporter
yang banyak ngajarin all about journalism.

http://www.friendster.com/9144974

Ketika kebanjiran, my boss at the current
company offered me some help. Bantuan konkret!
Bahkan ditanya "Mau dijemput atau dievakuasi?
Butuh bantuan apa, bilang aja…"

Juga ditawarin nginep di rumah kos.

So contrast with them… they sent e-mail
di awal Februari, they asked my opinion
untuk edisi ultah, I replied their questions
dan ngasi tau karena kebanjiran
jadi telat bales (seminggu setelahnya)

Tanpa basa-basi atau sedikitpun rasa simpati,
di reply berikutnya, mereka langsung
ngajak brain-storming via e-mail, suruh
bantu mikirin ide tulisan.

What?!

Is that what Jesus taught us?
They’re all religious church activists,
after all. I didn’t reply them until now.

Come on… at least, hiburlah gue dulu
yang baru kehilangan beberapa perabotan
akibat terendam air. Walau hanya satu
kalimat, walau nggak bisa ngasih bantuan
secara materiil.

Hanya si Peter aja yang nanya kabar
lewat SMS selama pengungsian.
Itupun dia kirim as personal,
as friend bukan mewakili perusahaan.

I’ve been writing to them since 2002,
4 tahun lebih… They knew my home
address is in Kelapa Gading yang kena
banjir parah! But…

Di perusahaan yang sekarang,
work only 3 months and my boss not a very
religious person BUT… she’s able to show
kindness as a human as well to me as
her employee.

Sorry if I talked like this,
kadang kritik emang nggak enak,
tapi tanpa itu kita nggak bisa introspeksi
diri untuk jadi lebih baik.

Luca 6:31
"Ciò che volete gli uomini facciano a voi,
anche voi fatelo a loro."

Story #2A

A publishing company, asked me to
write a book for them.
They gave me the outline, and the content
they wanted. I agree…

Tapi nggak ada kejelasan soal jumlah honor
"Pokoknya nanti dapet, tapi sesuai standar
kita. Lakukan aja yang terbaik sebagai
pelayanan."

Yeah, bisa ditebak…

Next, two weeks before batas waktu,
I still haven’t write anything.
Bahkan dalam waktu 3 hari, I can finish
it all, tapi mau tau dulu berapa…

They open the price 525 ribu rupiah,
untuk nulis 40 halaman. Bener2 below
the standard. I was expecting sekitar
4 juta lah, dengan hitungan satu halaman
untuk majalah aja Rp 100.000,-
Wajar dong…

Next day, after I snubbed their ‘peanuts’
the price raised into 875 ribu, which
is so laughable. It’s useless to have
further negotiation with that religious
organization.

‘If you can only pay with peanuts,
you should hire monkey to work for your
company.’ I wish I could say that to them,
but my courtesy prevented me.

Story #2B

I enter a tabloid corporation.
For just a week, then I didn’t proceed
with their contract, simply because
I’ve learned bahwa… ada yang nggak
beres.

Latihan & teori hanya 2 hari, sisa 5 hari
untuk langsung praktek, ditugaskan dan
andai bisa jadi artikel yang dimuat,
masih belum dapat bayaran. Karena masih
dianggap magang!

Oknum HRDnya nggak nepati janji,
jam kerja ‘terlalu fleksibel’ sehingga
pulang malem banget, juga nggak dihargai
secara duit dan juga pengakuan bahwa
I already have 4 years of experience.

A big company, but untuk karyawan baru,
belum dapet komputer, bahkan tape-recorder
harus punya sendiri, termasuk beli batere
with my own money. Hah?!

The HRD promised selama masa magang,
sehari dapat Rp 27.500 (Sangat nggak masuk
otak! Dengan jam kerja lembur all days,
plus sebagai reporter harus keliling
dengan berbagai kendaraan umum. Tekor!
Nggak balik modal, bisa2 balik modar…
hehe, ekstrim ya, just kidding!)

Ternyata at the end of the training sessions
yang awalnya dijanjikan hanya seminggu,
hanya Rp 25.000 per hari (Ga tau tuh 2500-nya
kemana?) DAN…

Keputusan diubah, semua peserta magang
diminta tambahan waktu pelatihan sebulan lagi.

I quickly said "NO, thanks!"

Bukan masalah selisih duit no-ceng-go,
it’s about integrity, honesty!
Orang yang sama menjanjikan, dan
dia juga yang menanda-tangani slip gaji.
Kenapa bisa ada selisih?

Kenapa ada mis-komunikasi dengan editor
yang awalnya diberi-tau bahwa magang
hanya seminggu, eh tiba2 jadi nambah
sebulan lagi…

The editor (a senior journalist who became
my mentor and writing coach for just a week
and I can still respect until now),
Mr.Dono Baswardono said to me

"Memang nggak mungkin bisa cepat
kaya kalau jadi wartawan. Tapi kamu bisa
kaya ilmu, dan punya banyak relasi.
Kamu bisa kaya dari jadi penulis buku,
pembicara seminar atau buat program
pelatihan."

I remember those words, but… Nggak harus
dengan kerja di situ dulu kan?

So I decided to leave…

"Anggaplah satu bulan ke depan masa ujian
untuk kamu. Memang berat kerja tanpa gaji,
tapi…"

I didn’t pay attention his next words,
but I give him a firm answer: NO.

"Sebenarnya saya ingin ajak kamu,
kalau ada proyek2 di luar kerja rutin.
Kamu punya potensi untuk…"

Sori Mas Dono, my answer tetap… NO!

He can understand, hubungan baik masih
terjaga, meski kita nggak kerja di tempat
yang sama.

For me, one month means a lot,
I won’t waste my talent by working
in a monkey-businees office. I’d rather
stay home and read my italian lesson again.

Story #3

Setelah ikut tes, wawancara kerja oleh
staf HRD di sebuah perusahaan konsultan
karir dan head-hunter, they scheduled me
to meet their boss (setidaknya, itu
pengakuan mereka).

But the man who interviewed me… sucks!

Reluctantly he allowed me to sit, as if
he’s so busy. Dengan ogah2an, dia baca2
lembar CV dan hasil tes. Bolak-balik
tiap halaman dengan tampang males.

Situasi wawancara berubah jadi seperti
ruang kelas, seperti dosen sedang nguji

He asked me these questions:

1.) Why you choose psychology?
2.) What do you learn?

JAWABAN:
Because I like to learn about people,
awalnya ada dua pilihan kuliah, English
and Psychology. My English is already
good since high-school, I decided
to learn something else. It helps me
to understand myself, other people
and to help us to develop our potentials.

Dengan tampang agak under-estimate, lanjut
next question

3.) Apa bedanya dengan Antropologi dan
Sosiologi? Kan belajar tentang manusia juga

JAWABAN:
Anthropology = human behaviour related
to history and culture. The focus of study
is on group, tribe, nation, not human
as individual

Sociology = human behaviour related to
society, politic, economy. It is a future
and modern point of view. To predict
the dynamic of group or nation.

Psychology = from the word psyche (soul),
we learn all about personality and
what makes people they way they think,
act, believe, feel and do (teori sikap)
juga ada cabang2nya psi.sosial, pendidikan,
industri &organisasi, dll

http://en.wikipedia.org/wiki/Psychology

http://en.wikipedia.org/wiki/Anthropology

http://en.wikipedia.org/wiki/Sociology

Dalam hati "Apa-apaan sih? Nanyain gue
kayak anak SMU aja. Can you give me
a better question?"

4.) Why do you apply as: RECRUITMENT STAFF
dan apa bedanya dengan jadi HRD?

JAWABAN:

Why? Karena posisi yang dibuka adalah
RECRUITMENT STAFF, you idi**! It’s your
company yang pasang iklan lowongan kerja.
That’s why I apply that position.

But I explained politely.

Cause I’m a fresh graduate, still looking
for experience. Sebagai pemula, yang
paling sesuai ya jadi staf rekrutmen dulu.

Fungsi HRD ada empat:

1-Rekrutmen: menyeleksi orang yang tepat
berdasarkan skill dan karakter. Caranya
dengan tes kemampuan dan tes kepribadian.
Juga wawancara untuk melihat ketrampilan
berkomunikasi dan kepribadian.

2-Evaluation: memberi penilaian dari kinerja

3-Training: mengetahui kelemahan dan
merancang program pelatihan untuk
menambah skill atau memotivasi

4-Discipline and termination: memberi
teguran untuk karyawan yang nggak produktif,
nggak sesuai standar, hingga paling kejam…
memecat!

Dia nanggapi dengan dingin, angkat sebelah
alis, body language yang makin terkesan
ngeremehin dan suara yang menekan

"Oh gitu ya, memangnya jadi HRD
bisa sampai mecat segala?"

I added: "Secara tak langsung, dengan
membantu pemilik perusahaan memilih
mana yang layak dipertahankan dan karyawan
yang sebaiknya dipulangkan."

I knew all those theories, please ask me
something else, I wish I could yell that
to him.

5.) Hobi kamu katanya membaca, baca apa aja?

"Anything, fiction and non-fiction."

Baca komik juga?

"Yeah, Asterix, Lucky Luke, Tintin, Walt Disney,
Kungfu Boy…"

Kalau novel?

"Terakhir, baca dari PAULO COELHO, judul
The Alchemist."

http://en.wikipedia.org/wiki/Paulo_Coelho

Bisa ceritakan?

"Tentang seorang anak muda bernama Santiago,
perjalanan dari Spanyol hingga Mesir,
melintasi gurun, bertemu berbagai orang,
sebuah simbolisasi dari perjalanan dan
pencarian makna dan tujuan hidup.
Dia mendapat mimpi tentang harta karun
yang ada di sebuah piramid, akhirnya
ia justru menyadari harta-karun sesungguhnya."

Apa pesan yang kamu dapat dari situ?

"Dalam hidup, kita nggak pernah tau apa
yang akan terjadi jika tak pernah mencoba.
Juga kadang kita nggak sadar, bahwa
sesungguhnya yang kita cari sudah ada,
banyak orang mencari-carinya hingga
ke berbagai tempat, akhirnya sadar bahwa
rumah dan keluarganya, serta hidupnya
sendiri, itulah harta-karun sesungguhnya."

http://en.wikipedia.org/wiki/The_Alchemist_%28book%29

OK… lalu buku apa lagi yang kamu baca?
Dari yang non-fiksi juga boleh…

"Ada banyak, KAHLIL GIBRAN, The Prophet.
Kalau yang non-fiksi, tentang pengembangan-diri
dan psikologi, biografi, kumpulan kutipan
orang terkenal, juga majalah dan koran."

http://en.wikipedia.org/wiki/Gibran

http://en.wikipedia.org/wiki/The_Prophet_%28book%29

He’s a bit amazed, tapi masih ja’im, nanya:
Teori psikologi apa saja yang kamu tau?

What? Kalau dijelasin semua, ini mah jadi
kuliah namanya. So, I explained about
four temperaments yang sekarang udah
dimodifikasi jadi tes DISC

(Dominant, Influence, Stable/steady dan
Conscienctious/Correcting)

http://en.wikipedia.org/wiki/DISC_assessment

Juga oleh David Kiersey diubah jadi:
Idealist, Artist, Rational, Guardian.

http://en.wikipedia.org/wiki/Kiersey_Temperament_Sorter

Kalau dari aliran mistik, sedikit berkaitan
dengan Astrologi, itu adalah empat elemen:

Api : Aries, Leo, Sagittarius
Udara : Libra, Aquarius, Gemini
Air : Cancer, Scorpio, Pisces
Tanah : Capricorn, Taurus, Virgo

http://en.wikipedia.org/wiki/Astrology_and_the_classical_elements

http://en.wikipedia.org/wiki/Classical_element

Juga nyambung ke 4 jenis kartu Tarot,
arkana minor: Wand, Sword, Cup, Pentacle
(Tongkat, Pedang, Piala, Koin)

http://en.wikipedia.org/wiki/Minor_arcana

Tapi… itu pseudo-science, dianggap tidak
ilmiah karena tidak memakai metodolgi
yang terstandarisasi, lagipula banyak
unsur kebetulan, nggak reliabel sebagai
alat tes, karena hanya berdasarkan tanggal
lahir saja, juga tidak valid.

Kenyataannya, kadang ada orang yang
tidak sesuai karakter zodiaknya. Kalaupun
ada yang mirip, tapi hanya sedikit, atau
sifat yang sangat umum, bisa siapapun
dari zodiak apapun. Tapi dari yang sedikit
tepat itu, lalu dianggap bener banget.
Lagipula itu yang lebih populer untuk
majalah dan tabloid. Tapi alat tes psikologi
harus bisa memenuhi syarat:

- Reliable, bisa diandalkan dan dipercaya.
Kepada siapapun, hasilnya bisa membedakan
orang yang sesuai/tidak sesuai dengan
ATRIBUT yang hendak diukur.

- Valid, mengukur apa yang hendak diukur,
dari kesesuaian pernyataan sebagai indikator
suatu fenomena yang ingin diteliti. Juga
mampu membedakan, orang2 yang masuk kelompok
‘tinggi’ ’sedang’ atau ‘rendah’

- Prediktif, mampu memperkirakan suatu
perilaku atau sikap seseorang. Jika hasil
tesnya bagus, tapi ternyata kinerjanya payah,
berarti alat tesnya nggak bagus.

- Normatif, ada aturannya yang standar,
sehingga siapapun yang jadi administrator tes,
harus sama dari instruksi dan prosedur.
Untuk tes obyektif (jawaban benar atau salah)
harus ada kunci jawabannya, juga standar
penilaian. Sedangkan tes evaluasi atau
tes proyektif, karena bisa subyektif,
tetap harus mengikuti panduan atau
pedoman dasar memberikan penilaian.

- Spesifik, semakin khusus aspek yang diukur,
semakin tinggi ketepatan. Deskripsi
profil kepribadian dan kemampuan tiap
individu harus integratif, menggabungkan
dari berbagai aspek yang terukur dari
tiap alat tes.

Kembali ke soal 4 elemen

Itu teori lama, dari Hippocrates.
Oleh Galen, baru ada istilah yang populer:

Koleris, Sanguin, Phlegmatis, Melankolis

http://en.wikipedia.org/wiki/Four_humours

Juga itu nyambung ke 16 tipe kepribadian
berdasarkan MBTI, teori Carl Gustav Jung
yang merupakan kombinasi dari pembawaan,
cara belajar, rasio-emosi, dan persepsi:

-Pembawaan: Ekstrovert atau Introvert
(Aktif, ceria, gaul, talk a lot ATAU
pasif, pendiam, observer, think a lot)
E atau I

-Cara belajar: Sensing atau Intuition
(Dengan data dan fakta ATAU insting)
S atau N

-Rasio-emosi: Thinking atau Feeling
(Kecenderungan otak kiri ATAU kanan)
T atau F

-Persepsi: Judging atau Perceiving
(Teratur, dengan rencana ATAU spontan, bebas)
J atau P

http://en.wikipedia.org/wiki/MBTI

Nice… so you know a lot of theory.
Anda termasuk yang mana?

"ISTJ… , introvert, cenderung analisa dari
data dan fakta, lebih memakai rasio dan
bekerja dengan rencana."

OK… tau teori apa lagi?

"Tiga tipe gaya belajar, dari NLP
(Neuro Linguistic Programming), gaya belajar
dan kepribadian bisa dilihat dari gerakan
bola mata… Ada tiga tipe, visual, Audio
dan Kinestetik… bla..bla…"

http://en.wikipedia.org/wiki/Neuro-linguistic_programming

Akhirnya… wawancara yang lebih seperti
kuliah itu, kelar…

6.) We can offer you gaji segini, mau?

"OK, kalau kamu bersedia… di tempat ini
kamu bisa mulai kerja awal bulan.
Dengan tawaran gaji… sekian."

(Masih dengan ekspresi enggan, duduk
dengan kaki menyilang, sesekali ngelihat
ke jam tangannya, bicara dengan nada seolah
nggak terlalu butuh karyawan baru)

Silent…

I was thinking, juga karena
few days ago at that day, ada panggilan
wawancara kedua by the company where
I am now.

"Bersedia?" dengan tampang makin …
he smiled and was looking at me
as if I’m the one who really need and
beg for a job, as if this is the only
office in all around the earth.

I won’t work with an employer who
I can’t respect! The way he asked me
questions, it sucks! Sorry… I change
my mind. Lagipula, angka yang dia tawarin,
below my expectation.

I snubbed him "Saya pikir-pikir dulu
(that means: NO!) Karena saat ini sudah
ada panggilan wawancara di tempat lain

(the company where I work now), nanti
kalau di sana saya nggak dapet
atau di semua tempat yang sudah saya
apply, nggak juga ada yang nerima,
baru saya coba lagi ke sini
(I will never
work with you!)."

So politely kita salaman, basa-basi lalu
pamitan… he’s a bit disappointed,
I can see from his ‘trying to be cool’
visage expression…

"Ya nanti, saya akan informasikan."

I close his door, walk out
from ‘his palace’ And… I didn’t regret it!

Besoknya, setelah positif diterima di
tempat yang sekarang, I sent e-mail
ngasih tau ke staf-nya, intinya:

"I’m off with that application.
I have found the right company that
offered me a better salary too."

Story #4

Setelah kerja di tempat ini (Read again:
Hey boss, blog sebelumnya) sempat
kepikiran untuk pindah.

Surat lamaran yang ke WORLD BANK sebagai
penerjemah, diterima, dites dan nggak lolos
untuk seleksi berikut (baca juga di blog
sebelumnya)

I want a job which can makes me use all
my talent. My english, for precise.
Selain my writing and presentation skill.

Sempet kepikiran untuk apply jadi Translator
di PBB, but they want 5 years experience
of working and English is a must, harus
bisa french or spanish juga.

http://unicef.org/about/employ/index.html

"Io sto imparando spagnolo, dopo italiano.
In quattro anni, io sarò maestro nelle lingue."

"I am learning spanish, after italian.
In four years, I’ll be master in the languages."

"Yo estoy aprendiendo español, despues italiano.
En cuatro años, yo sero maestro en las lenguas."

Juga ada teman ngajakin ke JobsDB.com
si Peter, sekarang dia pindah situ
dan rekomendasiin gue langsung ke bosnya
untuk rekrut gue sebagai editor untuk
situs mereka, juga bantuin jadi shadow-writer
(penulis yang disuruh penulis senior-the boss,
untuk ngetikin naskah, pas jadi buku hanya
dapat upah dan ucapan terima kasih,
nama tercantum di buku tapi dalam ukuran
font super kecil)

Tapi daerah Slipi macet, juga nggak ada
kejelasan soal berapa gaji yang mereka
bisa tawarkan. Ya, gue ulur2 waktu aja…
Males juga dateng jauh2 tapi nggak
pernah ketemu angka yang memuaskan
masing2 pihak, hasil tes dan
wawancara udah OK tinggal masalah
jumlah rupiah-nya aja.

"OK.. kita bicarain lagi bulan Juni,
masih ada proyek di kantor lama yang
harus saya selesaiin dulu."

That’s how I give them hope. If you don’t
pursue me, that means… you don’t
really need me.

Story #5

Akhirnya untuk sekarang, I decided to stay
di tempat yang ini. Karena:

- My boss really needs me, can convince me
that the company is developing and
I will be given a bigger role.

- I’m showing her my gratitude, meski belum
sampai nerima tawaran bantuannya saat
kebanjiran.

- Here, I learn to be the leader. Di tempat
lain, I will only be an employee.

- For now, I think that this is the best
place where I can self-actualize myself.

- Nice salary, apalagi if I’m promoted.
But won’t be enough karena akan makin
banyak kebutuhan dan harga2 terus naik.

- I can have fun all day, listening MP3
and play games. Kalo ada waktu luang,
baru ngerjain tulisan. Apalagi di sini
banyak waktu luang (baca baik2, ngerti?)

- Friendly colleagues. They’re nice
and we can cooperate for the mutual goal.

- I earn respect as well as I give to
the others working with me and the boss.

Oh ya, kalau ada waktu luang, I can read
books dan juga nulis BLOG, just as
I’ve just finished today. I can still have
time, untuk bisa belajar
italiano and
español, bahkan bisa nulis puisi. Bahkan
bisa sambil mikirin mau nulis SMS
tentang apa dan untuk siapa… hmmm…

Di kantor lain, belum tentu bisa…

But one day, I’ll try to apply as Translator,
juga sambil sekarang… nyiapin naskah buku.

Masih ada banyak keinginan… belajar
konsep dan teknik dasar disain grafis,
juga computer programming, kapan ya ada
waktu luang?

So far, segitu dulu… Next BLOG,
adalah tentang … any idea?

+ yoDi +

"Hehe… jadi belajar psikologi ya?"