Archive for June, 2007

Focus !

Wednesday, June 13th, 2007

Once upon a time… as the stories
always begin with this sentence…

A man was standing and he saw a
lady. She was walking in front of him

She’s so pretty!

Suddenly he felt love.

He walked faster and greet the beautiful
girl "Hello …"

The lady just smiled.

He added "I think, I have just met the
prettiest girl in this town."

"Are you sure?" Replied the girl.

"Yes, absolutely! You are the most
beautiful woman, in the country.
No, in the world… I’m sure!"

"And…?" The lady coldly responded.

"Would you be my girlfriend?"

So they smiled to each other and
the lady felt tempted to give him
a test.

The man stared deep to her eyes,
as if he had found his soul-mate.

"You should know one thing, I am not
the most beautiful woman."

The girl pointed with her index finger

"Sir, if you would look behind you.
There, my sister is standing and people
always compare us. Most of the people
said she is prettier than me."

The guy suddenly turned his head and
look behind him.

There was nobody!

"Lady, you told me a lie…"

"Yes Sir, the truth is… I don’t have
any sister. The truth is also, you’re
not an honest person!"

"How come? You can’t accused me
like that!"
the man became defensive.

"Sir, you just said few seconds ago,
that I am the most beautiful woman.
So… why would you have to look back
and see if there’s any prettier girl."

==A Chinese folktale==

MORAL: Focus, don’t be fickle or quickly
change your mind, be honest!

"I’m on my own, would you
leave me alone, before I
lose my mind.
Because you lie
So did I…"

(Avril Lavigne, Let Go)

So many times we fail, to get what
we wish to achieve.

That’s when we are tempted to look
behind, to see the past and …

A quote first..

"Life can be understood by looking
backward; but should be lived by
looking forward."
(Soren Kierkegaard)

Now let’s see the story of Moses
who led the people of Israel

They failed to enter the promise-land.

They kept complaining "If we must die,
let it not be in this desert.
In Egypt, we still can have our meal."

They didn’t understand the calling
and purpose of why GOD liberate them.

Kisah lain dari Sodom dan Gomora,
istrinya Lot berubah jadi tiang garam,
karena … menengok ke belakang!

Please check your Bible for detail
of the story.

Ingin kembali ke masa lalu?
Atau tergoda dengan pilihan lain?

Or as a proverb said:

As the dog returns to its vomit.

Disgusting!

I’ve seen a dog, which actually
really did that, chew some food,
then … *jackpot* (vomit), walk around
somewhere… then return there to taste
its own …

Ada kisah lain, seseorang tinggal di
lantai 50. Suatu hari listrik di
apartemen itu padam… AAArrrghhh!!

Lift jadi tak berfungsi, orang itu
bawa banyak barang bawaan, tas ransel,
koper dan berbagai bungkusan.

So??

Dia titip itu semua di lantai bawah,
di meja resepsionis.

Pikirnya gini "Naik tangga sampai ke
lantai 50, setelah itu masuk kamar dulu.
Tunggu listrik nyala, baru turun dan
ambil deh semua barang itu."

Begitulah, tiap lantai dilalui hingga
ngos…ngosan… sampai di lantai ke-50
dengan kaki sudah pegal, dia rogoh
sakunya untuk cari kunci…

WHHHHAAAAATTT!!!??

Kuncinya dia taruh di dalam ransel,
dan dengan semua bawaannya yang tadi,
masih di lantai terbawah.

Juga listrik belum juga nyala!

Hmmmmppphhh…

Nyesel kan?

Bayangkan, someday you’ll wake up
di usia 50 tahun dengan penyesalan,
bahwa di masa muda dulu… hidup hanya
untuk hal yang sia-sia.

Itulah yang terjadi, ketika kita lupa
bawa "kunci".

Untuk turun lagi ke lantai dasar,
masih mungkin, meski capeeeeekkk…

TAPI…

Untuk kembali lagi ke usia nol,
alias jadi bayi lagi, that’s impossible!

Jangan sampai itu terjadi…

"My father gave me the best advice
of my life. He said: Whatever you do,
don’t wake up at 65 years old and think
about what you should have done with
your life."

(George Clooney, Reader’s Digest)

Oke, jadi mesti bawa kunci ya?

Apa kuncinya?

What is the most important thing in
your life?

Your school?
Your career?
To earn money as much as you can?
To be the most famous person?
Getting married?
And your family?

Or… just to spend your days, slacking,
tiap hari hanya online untuk bacain
bulletin board, ngitungin udah
berapa orang yang ‘view my profile’
lalu ganti foto baru yang lebih cakep,
mintain testi/comment, dll.

Trus… kalo sempet, baru deh
baca blog ini…

Living is to GROW (baca lagi blog
yang judulnya GROWING)

Dan semua itu berjalan melalui
proses dan waktu
(baca lagi: Sekarang jam berapa?)

Do you know what’s your purpose?
(baca lagi: Let’s cook)

To know what you are meant to be,
see the talents you have
(read also: Punya otak nggak?)

If money is what you’re looking for,
then you should also read:
-How to earn richness?
-How to become richer?

Those two are also in my blogs

Have a focus!

You might say "Ah, banyak banget!
Cape baca tulisan panjang gitu…"

Ya andai aja you’ve read these dari
dulu, tentu udah lebih ngerti.

But… you can’t return to the past.

Time is always moving forward.

What you’re doing now, the present
condition, will one day be the past of
your future.

Several years from now, you’ll see
perbedaannya…

Atau sekarang atau 50 tahun lagi,
(seperti judul lagunya WARNA)
tetap belum berubah?

It’s all up to you!

Mau langsung gerakin mouse ke ujung
kanan atas, untuk CLOSE THIS PAGE…

ATAU…

Spend some more minutes to read what
I wrote here…

Remember the parable about faith?

It’s like a seed.

Iman itu seperti benih, yang harus
ditanam, dipelihara, diberi pupuk.

With prayers and efforts…

Jika iman itu nggak pernah masuk ke tanah,
hanya digenggam terus tiap hari,
beberapa tahun lagi, masih hanya jadi
sebutir dan lama-lama busuk, ditanam
pun sudah nggak bisa numbuh.

But if you keep the faith and let it
grows, suatu hari kelak… akan jadi
pohon dengan akar yang kuat dan terus
berbuah…

Hal itu berlaku untuk segala aspek.

Have focus!

+ yoDi +

Poetry: Lady of the flowers

Sunday, June 10th, 2007

Qui nel giardino
Dove cresce la bellezza
Poi i fiori sbocciano
Ovunque c’è la ragazza

Qui scritti ancora
Dove scrive il poeta
Poi aspetto di tornera
Ovunque c’è la amata

Here in this garden
Where beauty flows
The flowers blossom in a sudden
It’s her who make it grows

Here in this page
Where I write again a praise
The poet stood on her stage
It’s her who make the curtain raise

The earth eagers to feel her feet
And every foot-steps of her leave trace
It’s where glory and flutter meet
Watch her shadow has grace

The garden welcome her coming
And every trees would bow a while
It’s when the flowers are blossoming
Watch her carefree smile

So she gives me pleasure
The pen moves and end to this
Her rhymes written as my treasure
And every words of her grow bliss

So she spreads her arm
The air follows to where she’ll go
Her heart sprays exquisite charm
And every lips would praise her so

+ yoDi +

My book: STREET ART

Friday, June 8th, 2007

I helped my friend, Jefry for his final task.

To write a book, he will be the designer.

The title: STREET ART

It’s something new for me, I never knew
about it before. I learned psychology,
I wrote religious topic in a magazine.

AND… now I have to learn about graphic design.

Jadi, setelah naskah selesai, dipadukan
dengan disain gambar dan foto para aktivis
tembok bomber, juga hasil graffiti mereka,
dipresentasikan ke dosen di UPH, then we will
launch it, sudah ada beberapa penerbit yang
mendekati…

Intinya sih gini, di Indonesia belum ada buku
yang ngulas khusus sejarah STREET ART.

Dari sumber literatur, katanya seni mural
(lukis di dinding) sudah ada sejak jaman
manusia goa, gambar orang berburu, bawa tombak
atau panah lalu ada rusa yang digotong pulang.

Lalu lanjut ke jaman Romawi, huruf latin
mulai lazim dipakai. Dinding di tempat umum
dijadikan media penyampaian pesan.

Mulai dari surat cinta, pesan politis pro atau
kontra terhadap pemerintah, hingga gambar
karikatur yang menyindir pihak penguasa.

Gimana dengan di Indonesia?

Ini cuplikan dari isi bukunya yang terdiri dari
enam bab.

1. Pendahuluan

.. CUT ..

Membaca dan melihat, sebenarnya dua hal yang
terjadi melalui proses penginderaan, mata
adalah oknum yang memampukan kita sebagai
makhluk hidup untuk mengenal dan memaknai
apa yang tampak dan sedang terjadi
di sekeliling kita.

Buka mata dan perhatikan baik-baik
di sekeliling kita, dimana kita hidup.
Sebagian besar waktu kita habiskan untuk
ada di luar rumah, tul nggak?

Bahkan terjebak kemacetan!
Ya, jalanan seolah sudah jadi rumah kedua
karena sadar atau nggak itulah tempat yang
kita lalui setiap hari dengan kendaraan
atau jalan kaki.

Sekeliling kita, itulah ruang publik.
Itulah milik kita bersama yang patut
kita pelihara.

Dengan cara apa? Itu pertanyaan yang bagus
dan akan memunculkan banyak opini berbeda.
Sah-sah saja, justru keragaman adalah bukti
bahwa kita manusia yang punya keunikan
dan bisa berpikir, bukan sebuah file yang
sudah siap di-copy lalu paste kemudian di-print.

Human touch, itulah yang membedakan!
Manusia ingin diperhatikan, ingin dilihat,
ingin didengar. Persis seperti diungkapkan
Josh Groban: Everybody wants to be understood,
everybody needs to be loved.

Dengan berbagai ekspresi, kita berusaha
menunjukkan bahwa eksis. Lewat sentuhan,
ucapan, atau hasil karya.

Segala yang kita hasilkan itulah yang kemudian
berkembang menjadi budaya, gaya hidup, seni,
whatever definisi yang kita mau pakai atau
sumber pustaka yang bisa kita pilih.
Toh setiap seniman punya definisi dan bebas
menentukan mau pakai yang mana.

Sama seperti sangat relatifnya sebuah makna
dari hasil karya dan penilaian mengenai sesuatu
layak dianggap indah atau sampah.
Yang pasti, karya itu akan terus ada selama
masih ada manusia yang mau berkreasi.
Tinggal selanjutnya masalah dimana,
dalam bentuk apa, tujuan
dan pesan yang ingin dibawa.

Street art atau kalau dipaksakan jadi
bahasa Indonesia: Seni jalanan, adalah fenomena
yang menjadi marak dalam beberapa
tahun terakhir.

Ini adalah seni, bukan vandalisme
(kegiatan merusak sarana umum),
yang dilakukan para artis adalah
untuk memperindah kota, memberi warna,
menambah makna dengan membubuhkan berbagai
bentuk dan warna yang jika dipadukan
dapat dimaknai sebagai sebuah karya.

Medianya? Tentu saja ruang publik,
segala yang berada di tempat umum.
Yang paling banyak, tentu saja tembok.
Semua itu dianggap sah-sah saja untuk
dijadikan ‘kanvas’ karena semua orang
adalah bagian dari publik.

"Jadi ruang inipun boleh kami pakai,
boleh menjadi sarana bagi kami berekspresi."

Itulah argumen yang paling jamak.

Di sisi lain, ada yang kontra terhadap
kegiatan yang cenderung disalah-pahami
sebagai kegiatan anarkis, merusak,
memberontak, menunjukkan perlawanan atau
just simply melanggar aturan.

Tapi justru di situlah uniknya fenomena
street art. Jika merunut balik jauuuuuuh
ke jaman manusia goa, ada lukisan
di dinding hingga kemudian muncul alfabet.
Lalu berkembang menjadi media
penyampaian pesan, propaganda politik
dan artis yang tak kebagian jatah
di gedung galeri, atau sekedar ingin
karyanya dilihat, dikagumi oleh siapapun
karena kemudian galeri seni identik dengan
kalangan tertentu saja.

Nah! Sampai sejauh ini, memang Anda masih
menyimak berbagai tulisan.
Jika sudah bosan, balik saja lembar ini
dan langsung nikmati gambar dan foto
di halaman-halaman tengah. Tapi jika masih
penasaran, maka sebentar lagi juga akan selesai.

Kembali ke soal visi atau tujuan,
sebenarnya segala hal yang tercipta
pastilah memiliki makna dan manfaat.
Ketika di bab wawancara dengan beberapa
artis, mungkin mereka masih sulit
merumuskan dengan kata-kata. Mungkin juga
bisa dimaklumi, karena mereka
orang-orang ‘gambar’ yang lebih mudah bicara
lewat karya. Satu gambar bicara lebih banyak
dari seribu kata. Atau mereka masih dalam
tahap mencari jati diri, mencoba berekspresi
dan menemukan alter ego.

Oke, masih membaca ya? Jika mata Anda
sudah lelah, tutup saja sebentar halaman ini.
Lalu jika sudah segar, silakan melanjutkan
dari halaman mana saja karena untuk itulah
buku ini dibuat. Untuk siapapun,
dari kalangan manapun, jadi Anda bebas
‘masuk’ dari pintu halaman manapun.
Bebas, asal tetap sopan, oke?

Bicara soal kebebasan, itulah tema umum
yang didapat dari jawaban mereka.
Para artis yang tergabung dalam komunitas
Tembok Bomber, mengakui bahwa kegiatan
memperindah tembok di ruang publik adalah
sarana ekspresi. Bukan mengikuti pesanan
kelompok pengusaha seperti halnya
disain untuk iklan yang memakai media billboard.
Tak ada tujuan komersil, sama sekali tak berniat
menyinggung siapapun, apalagi membangkitkan
kebencian terhadap kelompok manapun.
It’s pure art, no politic!

Itulah yang membedakan sejarah perkembangan
Street Art di Indonesia dengan yang bersumber
dari literatur. Karena di Indonesia masih baru,
makanya jadi agak sulit untuk mencari referensi.
Untuk memasukkan dari sumber buku luar negeri,
rasanya nggak nyampe dan sulit masuk
ke konteks lokal. Tapi tetap, itu bisa
jadi informasi yang berguna.

Bagi seorang artis, tak ada benar atau salah,
baik atau buruk. Sebuah coretan yang
tak sengaja tergores di atas kanvas,
bisa dimodifikasi sehingga menjadi sesuatu
yang baru, yang memberi makna dan pada
akhirnya menjadi bagian yang utuh dan
menambah komposisi sebuah lukisan.

Sadar, saya sungguh sadar… bahwa
tak ada karya yang sempurna.
Namun jika kita hanya duduk merenung
tanpa mulai menggoreskan pena, tak akan pernah
ada karya yang selesai. Untuk segala kekurangan
yang masih ada, Anda berhak memberi komentar,
kritik dan saran, saya sangat terbuka
untuk menerimanya.

Setiap artis memang sebaiknya tak ragu
untuk meminta penilaian. Penghargaan justru
sebaliknya, jangan dijadikan target.
Karena jika kita fokus hanya mencari
upah atau piala, justru kreativitas perlahan
seperti sedang dicekik. Karena kita dipaksa
mengikuti konsensus, apa yang menjadi
selera kebanyakan orang, apa yang populer
dan akhirnya menenggelamkan kreativitas.
Jangan pernah takut kehabisan inspirasi
atau sarana mengekspresikan diri, kiranya
para artis jalanan ini dapat menjadi
inspirasi bagi Anda.

.. CUT ..

2. STREET ART

Semua kegiatan seni yang terjadi di
ruang publik, atau tempat umum.
Umumnya identik disebut grafiti atau
coret-coret tembok. Ya, itulah definisi awam
dan kinilah saatnya Anda mulai
membuka file di otak Anda dan
menambahkan input data baru.

.. CUT ..

Dimulai dari seni, yang saya coba definiskan
sebagai: Segala tindakan dan hasil karya yang
dihasilkan manusia yang memiliki makna
dan menimbulkan berbagai opini,
mampu menggugah emosi dan menjadi
inspirasi untuk menciptakan karya selanjutnya.

Simpelnya gini, jika kita menciptakan suatu
karya dan membuat kita sebagai penciptanya
mampu mengagumi dan menilainya indah,
that’s artistic value.

Jika hasil karya kita bisa dkagumi orang lain,
itulah estetik. Masalahnya itu tadi,
setiap orang bisa berbeda pendapat.
Terhadap satu jenis aliran musik, lukisan
atau tari-tarian, ada yang bilang bagus
ada yang langsung alergi dan tutup mata,
tutup kuping.

Jika kita bicara keindahan, sebenarnya itu
juga kan sebuah opini. Juga mampu membangkitkan
perasaan. Ada yang setelah menikmati suatu
pertunjukan, bisa menangis, merasa kesal atau
bersimpati dengan salah satu tokohnya.

Juga seorang artis yang bisa disebut hebat,
adalah yang bisa membuat orang lain
terinspirasi menjadi artis seperti dirinya
namun tetap dengan keunikannya sendiri.

Andrea Verrochio mampu mendidik
Leonardo da Vinci yang kemudian memiliki
murid sekaligus pesaingnya, Michelangelo.
Dalam konteks olahraga, Arrigo Sacchi mampu
menghasilkan tim AC Milan yang hebat
pada eranya sebagai pelatih.

Kemudian anak-didiknya mampu pula menjadi
pelatih setelah gantung sepatu
(Carlo Ancelloti, Roberto Donadoni,
Ruud Gullit, Frank Rijkaard,
Marco van Basten, dll)

Bagaimana dengan Anda?
Terinspirasi oleh siapa?
Akan mempengaruhi siapa sebagai
artis berikutnya?

Silakan jawab sendiri dalam hati saja.

.. CUT ..

Dari jenisnya, jalan dikategorikan sebagai
jalan utama atau avenue, jalan besar yang
juga disebut boulevard, hingga jalan kecil
yang ada di tiap komplek perumahan hingga
yang terkecil disebut gang, bahkan
di Indonesia juga ada lagi yang lebih sempit,
disebut lorong. Di semua jenis sebutan itu,
umumnya ada tembok. Tinggal masalah
menentukan mau pilih yang di mana,
mau dilihat berapa banyak orang,
mau makin dikenal oleh kelompok
warga kota yang mana. Tentunya itu yang
dipertimbangkan para artis saat
memilih lokasi. Sama seperti halnya para
investor yang memilih area pasar.
Bedanya artis-artis ini melakukannya
bukan demi uang.

Tapi demi kesenangan, kebebasan dan sarana
ekspresi diri. Mereka merasa sebagai
bagian dari publik, maka berhaklah setiap
orang menggunakannya. Tapi mengapa di sana?
Karena di tempat umumlah, karya seni itu
memang dimaksudkan untuk dilihat dan
diharapkan dapat jadi bahan perbincangan.
Baik kalangan non-artis atau di sesama
komunitas street art. Adanya pengakuan,
komentar dan beragam reaksi, itulah yang dicari.

.. CUT ..

Jalanan dipilih sebagai wujud pernyataan
sikap bahwa seni bukanlah hanya milik
kalangan menengah ke atas yang dipamerkan
di gedung museum dan galeri yang megah
dimana yang masuk harus berbusana wah
dan membeli tiket yang bagi sebagian
besar masyarakat terasa memberatkan.
So we present this art to anyone.
Siapaun, ya semua orang. Jalanan adalah
tempat yang netral, bisa dijangkau semua
kalangan. Juga untuk menikmatinya tak
perlu keluar uang. Hanya tinggal lihat saja,
free for everyone.

.. CUT ..

Jika batasan mau kita berikan, bahwa
street art adalah yang berhubungan dengan
lukisan di tembok, maka coba perhatikan
penuturan salah satu artis
"Justru seninya adalah ketika kita
keluar tengah malam, saat jalanan sepi
lalu tiba-tiba ada petugas keamanan yang
ingin menangkap, terjadi kejar-kejaran,
di situ justru seninya."

Wow!

.. CUT ..

Sejarah graffiti di Indonesia

Era jadul
Penyampaian pesan politik ‘Merdeka atau mati’
atau pernyataan perang ke negara tetangga,
pesan anti terhadap kelompok etnis dan
partai politik tertentu.

1970an
Graffiti identik sebagai penanda wilayah
kekuasaan para preman.

1980 s/d 2000
Mulai merambah ke SMP dan SMU, yang
dengan bangga membuat graffiti nama
sekolahnya. Juga jadi ajang pamer nama geng.

2000 seterusnya
Mulai mendapat apresiasi sebagai bentuk seni.
Meski masih sulit untuk mengubah
strereotype dari generasi sebelumnya,
bahwa ini benar-benar seni.

.. CUT ..

Berawal dari kumpul-kumpul, punya hobi
yang sama, yakni di bidang seni,
maka muncullah berbagai komunitas
yang mencoba terus eksis dan menunjukkan
kepada publik tentang siapa mereka.

Selain melalui hasil karyanya, dari
hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa
mereka umumnya:

- Punya nama samaran, nickname, atau alter-ego
- Menganggap seni adalah kebebasan berekspresi
- Seni yang ditujukan untuk kepentingan komersil bukan lagi hal yang murni

3. WAWANCARA

Bagian ini, baca di bukunya, juga simak
foto-foto kreasi graffiti mereka.

4. GALERI JALANAN

Kumpulan foto graffiti di berbagai wilayah

5. EKSEBISI

Di Galeri Nasional & Museum Gajah.
Banyak foto, minim tulisan.

6. Alter ego dan ekspresi diri

Alter ego, atau sisi lain dari kepribadian
yang suatu ketika bisa muncul.

Dari beberapa obrolan, memang sering keucap.
Lebih jelasnya, kita tentu tau Peter Parker.
Saat dibutuhkan sebagai pahlawan, dia ambil
kostum dan ingin dikenal sebagai Spiderman.
Begitu juga Bruce Wayne yang jadi Batman.
Banyak orang kenal siapa tokoh yang berkostum
dan bertopeng, tapi hanya sedikit yang tau
siapa mereka di balik itu.

Para pahlawan bertopeng itu punya misi,
ingin menolong tanpa harus dikenal sebagai
siapa dirinya secara pribadi. Cukup dengan
nama samaran atau nickname.

Lebih baik, orang membicarakan tentang
siapa saya dalam sebutan ‘topeng’ itu.
Justru dengan kostum samaran, mereka bisa
lebih bebas berekspresi, memunculkan sisi heroik
dalam dirinya yang selama ini tersembunyi
oleh keja’iman atau norma sosial.

And they exist! Mengekspresikan dirinya
melalui seni. Selama ini mereka cenderung
melihat disain hanya sebagai pekerjaan,
mengikuti selera pasar, permintaan klien
dan dibatasi dalam kreativitas.

Media ruang publik berupa tembok jalanan
adalah sarana mereka meluapkan ketidak-puasan
sekaligus menampilkan sisi lain atau
alter ego yang sulit dimunculkan saat bekerja.
Perjalanan waktu membuat mereka akan
makin dikenal dan terus eksis.

Actually itu semua tergantung apresiasi
masyarakat juga dari diri mereka untuk
terus berkarya.

Biarlah masyarakat kota tak perlu tau
siapa di balik topeng, nikmati saja aksi
kepahlawanan mereka yang berniat
memperindah kota dan menghibur lewat
coretan bermakna yang kita kenal sebagai
graffiti.

Namun jika Anda penasaran, ingin kenal
lebih tentang siapa mereka, juga tak ada
salahnya.

Setiap kita yang lahir dan memiliki talenta,
wajib untuk mengelolanya hingga kelak dapat
bertumbuh dan membawa manfaat bagi
lingkungan sekitarnya. Dengan terus berkarya,
kita akan terus eksis. Seperti yang diucapkan
Bruce Wayne dalam kostumnya di Batman Begins:

“Kita dinilai bukan dari apa yang kita yakini
tentang siapa diri kita; tapi dari
apa yang kita kerjakan dan hasil yang
dinilai oleh orang lain. Itulah siapa diri
kita sebenarnya.”

+ yoDi +

Itulah sekilas isi (tulisan) bukunya,
akan ada banyak foto hasil graffiti para
artis yang telah dan akan kami wawancarai.

Jadi… tunggu saja, btw jika ingin
kenal Jefry, ini dia link Friendster-nya:

http://www.friendster.com/41414748

Keep on creating!

Poetry: You’re not !

Tuesday, June 5th, 2007

It was just a memory
I knew you try to impress me
As always, I said sorry
You are just not meant to be

It was when I quickly gone
I hope from now you understand
As I prefer to be alone
You shouldn’t try to hold my hand

It is just a simple thing
I don’t feel the chemistry
As you started to talk, boring
You must tell a better story

It is when you don’t listen
I don’t forget your make-up
As my birthday you’ve forgotten
You better just order one cup

I am just a fool
I don’t say I’m fantastic
But you tried to be cool
And I said you’re pathetic

I am just simple
I don’t follow the trend
But you’re just another people
And I said you’re just a friend

I am just a nerd
I don’t understand fashion
But your style is beyond word
And I admit you have action

I am just thinking
I don’t have my type, specific
But your name start sinking
And I found her, terrific!

Yes, you’re hot!
And maybe also pretty
But you’re not!
Can you be smart and witty?

Yes, you’re popular!
And maybe a drama queen
But others are similar
Can you speak
French or Mandarin?

Yes, you’re talkative!
But can’t be super
How can you be informative?
If you rarely read newspaper

Yes, you rely on cosmetic 
But hey, who’s your name?
How can we be romantic?
If your
English is so lame

Yes, you understand it, dear
But after hours with dictionary
How can we be near?
If your wit is ordinary

Yes, you keep wondering too
But now I can just laugh a lot
How can I accept you?
If I already said
"You’re not!"

** Alter ego of yoDi **

This is just for fun…
The ‘you’ in this silly poem,
hmmm… there’s nobody specific!
Just an imaginary figure…
Please, anyone, don’t be offended.

Avril Lavigne inspired me.
She wrote lyrics like that to
her ex-guitarist (also boyfriend)

Why can’t I?

A colleague said "That’s sarcastic,
don’t publish at your blog."

It wasn’t me who wrote that,
just my alter ego.

Hope you enjoy it!

Sekarang jam berapa?

Monday, June 4th, 2007

Hard to answer that.
Tiap arloji, jam di tempat umum
ataupun di tiap rumah, bisa berbeda.
Entah dalam hitungan menit atau detik.

Bahkan tiap akhir tahun, the count-down
in each TV stations juga nggak kompak.
Ada yang sudah tiup terompet, saat pencet
remote control, di channel yang lain
ada yang masih menghitung mundur:

9..8..7..

Ada yang sengaja memajukan beberapa
menit untuk antisipasi agar tidak telat.

6..5..4..

But we all need it. Kita butuh untuk
tau mengenai waktu, pertanyaan paling
sederhana untuk sekedar basa-basi:

‘Sekarang jam berapa?’

3..2..1..

** CUT **

And now, kita mulai ceritanya:

Once there was a person who work
as a time-keeper, seorang penunggu

menara Big Ben di London, di puncaknya
ada jam besar yang (katanya) jadi patokan
waktu untuk seluruh dunia. Itulah yang
diyakini jam paling tepat.

Semua orang yang baru beli jam tangan,
mencocokkan dengan melihat ke menara
Big Ben.

Di seberang menara, di bawah sana,
ada toko dan hiduplah seorang
penjual arloji yang memasang jam besar
sebagai papan tokonya. Semua orang
juga sering menjadikan jam besar di atas
pintu tokonya sebagai patokan.

Suatu hari, jam di Big Ben rusak,
jarum-jarumnya berhenti!

Setelah direnovasi, si penjaga menara
bingung, sekarang jam berapa?

Dia tidak punya jam tangan dan jam
di rumahnya, dia juga nggak yakin itu
benar. Gimana dong? Jam yang jadi patokan
waktu seluruh dunia, hari itu rusak.

So the tower-keeper turun dan menyebrangi
jalan, masuk ke toko itu

"Apakah jam di papan toko ini tepat?"

"Yes, of course. I always match my clock
with that."
Kata si pemilik toko sambil
menunjuk ke langit, ke atas, ke arah
Menara Big Ben.

Wow!

Sejak saat itu mereka berteman.
Jika suatu saat jam di Menara Big Ben
rusak, dia nggak panik, karena untuk
mencocokkan yang tepat dia tinggal
lihat ke seberang jalan.

Begitu sebaliknya, saat jam di atas
papan toko rusak, si penjual arloji
tinggal melihat ke atas, Menara Big Ben
yang selalu jadi inspirasi buatnya.

Gimana jika dua-duanya rusak?

Mereka masih bisa menelepon ke rumah,
nanya
‘Sekarang jam berapa?’
atau setidaknya lihat ke arloji yang
dulunya dicocokkan berdasarkan
jam di Menara Big Ben.

Itulah kebenaran!

Sama seperti halnya nilai-nilai,
kebijaksanaan, prinsip dan moralitas.

Nggak ada orang yang mutlak memilikinya.

Sama seperti jam, ada kalanya kita
‘berhenti’ karena sedang error.

Di saat ingin kembali ke jalur yang
benar, kita perlu bertanya, bahkan
merendahkan diri (turun dari atas
menara) untuk sekadar menanyakan:

‘Sekarang jam berapa?’

Karena kebenaran bukan mutlak milik
satu orang saja.

Nobody’s perfect.

Even a leader, who’s always in the
high position, yang selama ini selalu
jadi acuan bagi para pengikutnya.

Kadang pemimpin juga bisa salah,
itulah saat dimana orang lain dibutuhkan.

Prinsip, kebenaran, keyakinan atau
apapun yang dulu bersumber darinya
dan dimiliki oleh orang lain yang
terinspirasi olehnya… suatu saat,
ia akan membutuhkannya di saat ia
sedang
‘error’

That’s what friends are also for…

Untuk mengingatkan, whenever you did
wrong, they remind you

"Remember, you once told me that
‘You’ll never walk alone’
please don’t walk alone…"

Yes, I remember it.
Thanks for being my friend.

** CUT **

Berikut ini, maybe you knew it
dari forward2an di bulletin board,
tentang betapa pentingnya waktu:

Untuk tau betapa berharganya
waktu
1 TAHUN, tanyakan kepada
siswa yang pernah tidak naik kelas.

Untuk tau betapa berharganya
waktu
1 BULAN, tanyakan kepada
ibu yang baru melahirkan bayi prematur.

Untuk tau betapa berharganya
waktu
1 PEKAN, tanyakan kepada
para jurnalis majalah bulanan.

Untuk tau betapa berharganya
waktu
1 HARI, tanyakan kepada
para buruh yang dapat upah harian.

Untuk tau betapa berharganya
waktu
1 JAM, tanyakan kepada
mereka yang karena telat berangkat
jadi terjebak kemacetan dan hari itu
semua jadwal berantakan!

Untuk tau betapa berharganya
waktu
1 MENIT, tanyakan kepada
orang yang ketinggalan bus atau kereta
hanya beberapa langkah.

Untuk tau betapa berharganya
waktu 1 DETIK, tanyakan kepada
para runner-up dalam lomba lari sprint.

Time is important.
Every moment is precious!

** CUT **

Think about these questions, now…

How many times have you spend:

- hanya untuk online, bacain lalu
isi-isi bulletin board

- to live daily, sleep, bath, go
to study/work, then eat, play, etc

- belajar dari TK, SD, SMP, SMU/SMK
dan seterusnya

- reading this blog?

Then ask yourself:

What DID I DO?

What AM I DOING?

What WILL I DO?

What MUST BE DONE?

What … ?
<make your own question>

Atau kalau masih bingung, kembali
aja ke pertanyaan awal tadi:

Sekarang jam berapa?

+ yoDi +