I helped my friend, Jefry for his final task.
To write a book, he will be the designer.
The title: STREET ART
It’s something new for me, I never knew
about it before. I learned psychology,
I wrote religious topic in a magazine.
AND… now I have to learn about graphic design.
Jadi, setelah naskah selesai, dipadukan
dengan disain gambar dan foto para aktivis
tembok bomber, juga hasil graffiti mereka,
dipresentasikan ke dosen di UPH, then we will
launch it, sudah ada beberapa penerbit yang
mendekati…
Intinya sih gini, di Indonesia belum ada buku
yang ngulas khusus sejarah STREET ART.
Dari sumber literatur, katanya seni mural
(lukis di dinding) sudah ada sejak jaman
manusia goa, gambar orang berburu, bawa tombak
atau panah lalu ada rusa yang digotong pulang.
Lalu lanjut ke jaman Romawi, huruf latin
mulai lazim dipakai. Dinding di tempat umum
dijadikan media penyampaian pesan.
Mulai dari surat cinta, pesan politis pro atau
kontra terhadap pemerintah, hingga gambar
karikatur yang menyindir pihak penguasa.
Gimana dengan di Indonesia?
Ini cuplikan dari isi bukunya yang terdiri dari
enam bab.
1. Pendahuluan
.. CUT ..
Membaca dan melihat, sebenarnya dua hal yang
terjadi melalui proses penginderaan, mata
adalah oknum yang memampukan kita sebagai
makhluk hidup untuk mengenal dan memaknai
apa yang tampak dan sedang terjadi
di sekeliling kita.
Buka mata dan perhatikan baik-baik
di sekeliling kita, dimana kita hidup.
Sebagian besar waktu kita habiskan untuk
ada di luar rumah, tul nggak?
Bahkan terjebak kemacetan!
Ya, jalanan seolah sudah jadi rumah kedua
karena sadar atau nggak itulah tempat yang
kita lalui setiap hari dengan kendaraan
atau jalan kaki.
Sekeliling kita, itulah ruang publik.
Itulah milik kita bersama yang patut
kita pelihara.
Dengan cara apa? Itu pertanyaan yang bagus
dan akan memunculkan banyak opini berbeda.
Sah-sah saja, justru keragaman adalah bukti
bahwa kita manusia yang punya keunikan
dan bisa berpikir, bukan sebuah file yang
sudah siap di-copy lalu paste kemudian di-print.
Human touch, itulah yang membedakan!
Manusia ingin diperhatikan, ingin dilihat,
ingin didengar. Persis seperti diungkapkan
Josh Groban: Everybody wants to be understood,
everybody needs to be loved.
Dengan berbagai ekspresi, kita berusaha
menunjukkan bahwa eksis. Lewat sentuhan,
ucapan, atau hasil karya.
Segala yang kita hasilkan itulah yang kemudian
berkembang menjadi budaya, gaya hidup, seni,
whatever definisi yang kita mau pakai atau
sumber pustaka yang bisa kita pilih.
Toh setiap seniman punya definisi dan bebas
menentukan mau pakai yang mana.
Sama seperti sangat relatifnya sebuah makna
dari hasil karya dan penilaian mengenai sesuatu
layak dianggap indah atau sampah.
Yang pasti, karya itu akan terus ada selama
masih ada manusia yang mau berkreasi.
Tinggal selanjutnya masalah dimana,
dalam bentuk apa, tujuan
dan pesan yang ingin dibawa.
Street art atau kalau dipaksakan jadi
bahasa Indonesia: Seni jalanan, adalah fenomena
yang menjadi marak dalam beberapa
tahun terakhir.
Ini adalah seni, bukan vandalisme
(kegiatan merusak sarana umum),
yang dilakukan para artis adalah
untuk memperindah kota, memberi warna,
menambah makna dengan membubuhkan berbagai
bentuk dan warna yang jika dipadukan
dapat dimaknai sebagai sebuah karya.
Medianya? Tentu saja ruang publik,
segala yang berada di tempat umum.
Yang paling banyak, tentu saja tembok.
Semua itu dianggap sah-sah saja untuk
dijadikan ‘kanvas’ karena semua orang
adalah bagian dari publik.
"Jadi ruang inipun boleh kami pakai,
boleh menjadi sarana bagi kami berekspresi."
Itulah argumen yang paling jamak.
Di sisi lain, ada yang kontra terhadap
kegiatan yang cenderung disalah-pahami
sebagai kegiatan anarkis, merusak,
memberontak, menunjukkan perlawanan atau
just simply melanggar aturan.
Tapi justru di situlah uniknya fenomena
street art. Jika merunut balik jauuuuuuh
ke jaman manusia goa, ada lukisan
di dinding hingga kemudian muncul alfabet.
Lalu berkembang menjadi media
penyampaian pesan, propaganda politik
dan artis yang tak kebagian jatah
di gedung galeri, atau sekedar ingin
karyanya dilihat, dikagumi oleh siapapun
karena kemudian galeri seni identik dengan
kalangan tertentu saja.
Nah! Sampai sejauh ini, memang Anda masih
menyimak berbagai tulisan.
Jika sudah bosan, balik saja lembar ini
dan langsung nikmati gambar dan foto
di halaman-halaman tengah. Tapi jika masih
penasaran, maka sebentar lagi juga akan selesai.
Kembali ke soal visi atau tujuan,
sebenarnya segala hal yang tercipta
pastilah memiliki makna dan manfaat.
Ketika di bab wawancara dengan beberapa
artis, mungkin mereka masih sulit
merumuskan dengan kata-kata. Mungkin juga
bisa dimaklumi, karena mereka
orang-orang ‘gambar’ yang lebih mudah bicara
lewat karya. Satu gambar bicara lebih banyak
dari seribu kata. Atau mereka masih dalam
tahap mencari jati diri, mencoba berekspresi
dan menemukan alter ego.
Oke, masih membaca ya? Jika mata Anda
sudah lelah, tutup saja sebentar halaman ini.
Lalu jika sudah segar, silakan melanjutkan
dari halaman mana saja karena untuk itulah
buku ini dibuat. Untuk siapapun,
dari kalangan manapun, jadi Anda bebas
‘masuk’ dari pintu halaman manapun.
Bebas, asal tetap sopan, oke?
Bicara soal kebebasan, itulah tema umum
yang didapat dari jawaban mereka.
Para artis yang tergabung dalam komunitas
Tembok Bomber, mengakui bahwa kegiatan
memperindah tembok di ruang publik adalah
sarana ekspresi. Bukan mengikuti pesanan
kelompok pengusaha seperti halnya
disain untuk iklan yang memakai media billboard.
Tak ada tujuan komersil, sama sekali tak berniat
menyinggung siapapun, apalagi membangkitkan
kebencian terhadap kelompok manapun.
It’s pure art, no politic!
Itulah yang membedakan sejarah perkembangan
Street Art di Indonesia dengan yang bersumber
dari literatur. Karena di Indonesia masih baru,
makanya jadi agak sulit untuk mencari referensi.
Untuk memasukkan dari sumber buku luar negeri,
rasanya nggak nyampe dan sulit masuk
ke konteks lokal. Tapi tetap, itu bisa
jadi informasi yang berguna.
Bagi seorang artis, tak ada benar atau salah,
baik atau buruk. Sebuah coretan yang
tak sengaja tergores di atas kanvas,
bisa dimodifikasi sehingga menjadi sesuatu
yang baru, yang memberi makna dan pada
akhirnya menjadi bagian yang utuh dan
menambah komposisi sebuah lukisan.
Sadar, saya sungguh sadar… bahwa
tak ada karya yang sempurna.
Namun jika kita hanya duduk merenung
tanpa mulai menggoreskan pena, tak akan pernah
ada karya yang selesai. Untuk segala kekurangan
yang masih ada, Anda berhak memberi komentar,
kritik dan saran, saya sangat terbuka
untuk menerimanya.
Setiap artis memang sebaiknya tak ragu
untuk meminta penilaian. Penghargaan justru
sebaliknya, jangan dijadikan target.
Karena jika kita fokus hanya mencari
upah atau piala, justru kreativitas perlahan
seperti sedang dicekik. Karena kita dipaksa
mengikuti konsensus, apa yang menjadi
selera kebanyakan orang, apa yang populer
dan akhirnya menenggelamkan kreativitas.
Jangan pernah takut kehabisan inspirasi
atau sarana mengekspresikan diri, kiranya
para artis jalanan ini dapat menjadi
inspirasi bagi Anda.
.. CUT ..
2. STREET ART
Semua kegiatan seni yang terjadi di
ruang publik, atau tempat umum.
Umumnya identik disebut grafiti atau
coret-coret tembok. Ya, itulah definisi awam
dan kinilah saatnya Anda mulai
membuka file di otak Anda dan
menambahkan input data baru.
.. CUT ..
Dimulai dari seni, yang saya coba definiskan
sebagai: Segala tindakan dan hasil karya yang
dihasilkan manusia yang memiliki makna
dan menimbulkan berbagai opini,
mampu menggugah emosi dan menjadi
inspirasi untuk menciptakan karya selanjutnya.
Simpelnya gini, jika kita menciptakan suatu
karya dan membuat kita sebagai penciptanya
mampu mengagumi dan menilainya indah,
that’s artistic value.
Jika hasil karya kita bisa dkagumi orang lain,
itulah estetik. Masalahnya itu tadi,
setiap orang bisa berbeda pendapat.
Terhadap satu jenis aliran musik, lukisan
atau tari-tarian, ada yang bilang bagus
ada yang langsung alergi dan tutup mata,
tutup kuping.
Jika kita bicara keindahan, sebenarnya itu
juga kan sebuah opini. Juga mampu membangkitkan
perasaan. Ada yang setelah menikmati suatu
pertunjukan, bisa menangis, merasa kesal atau
bersimpati dengan salah satu tokohnya.
Juga seorang artis yang bisa disebut hebat,
adalah yang bisa membuat orang lain
terinspirasi menjadi artis seperti dirinya
namun tetap dengan keunikannya sendiri.
Andrea Verrochio mampu mendidik
Leonardo da Vinci yang kemudian memiliki
murid sekaligus pesaingnya, Michelangelo.
Dalam konteks olahraga, Arrigo Sacchi mampu
menghasilkan tim AC Milan yang hebat
pada eranya sebagai pelatih.
Kemudian anak-didiknya mampu pula menjadi
pelatih setelah gantung sepatu
(Carlo Ancelloti, Roberto Donadoni,
Ruud Gullit, Frank Rijkaard,
Marco van Basten, dll)
Bagaimana dengan Anda?
Terinspirasi oleh siapa?
Akan mempengaruhi siapa sebagai
artis berikutnya?
Silakan jawab sendiri dalam hati saja.
.. CUT ..
Dari jenisnya, jalan dikategorikan sebagai
jalan utama atau avenue, jalan besar yang
juga disebut boulevard, hingga jalan kecil
yang ada di tiap komplek perumahan hingga
yang terkecil disebut gang, bahkan
di Indonesia juga ada lagi yang lebih sempit,
disebut lorong. Di semua jenis sebutan itu,
umumnya ada tembok. Tinggal masalah
menentukan mau pilih yang di mana,
mau dilihat berapa banyak orang,
mau makin dikenal oleh kelompok
warga kota yang mana. Tentunya itu yang
dipertimbangkan para artis saat
memilih lokasi. Sama seperti halnya para
investor yang memilih area pasar.
Bedanya artis-artis ini melakukannya
bukan demi uang.
Tapi demi kesenangan, kebebasan dan sarana
ekspresi diri. Mereka merasa sebagai
bagian dari publik, maka berhaklah setiap
orang menggunakannya. Tapi mengapa di sana?
Karena di tempat umumlah, karya seni itu
memang dimaksudkan untuk dilihat dan
diharapkan dapat jadi bahan perbincangan.
Baik kalangan non-artis atau di sesama
komunitas street art. Adanya pengakuan,
komentar dan beragam reaksi, itulah yang dicari.
.. CUT ..
Jalanan dipilih sebagai wujud pernyataan
sikap bahwa seni bukanlah hanya milik
kalangan menengah ke atas yang dipamerkan
di gedung museum dan galeri yang megah
dimana yang masuk harus berbusana wah
dan membeli tiket yang bagi sebagian
besar masyarakat terasa memberatkan.
So we present this art to anyone.
Siapaun, ya semua orang. Jalanan adalah
tempat yang netral, bisa dijangkau semua
kalangan. Juga untuk menikmatinya tak
perlu keluar uang. Hanya tinggal lihat saja,
free for everyone.
.. CUT ..
Jika batasan mau kita berikan, bahwa
street art adalah yang berhubungan dengan
lukisan di tembok, maka coba perhatikan
penuturan salah satu artis
"Justru seninya adalah ketika kita
keluar tengah malam, saat jalanan sepi
lalu tiba-tiba ada petugas keamanan yang
ingin menangkap, terjadi kejar-kejaran,
di situ justru seninya."
Wow!
.. CUT ..
Sejarah graffiti di Indonesia
Era jadul
Penyampaian pesan politik ‘Merdeka atau mati’
atau pernyataan perang ke negara tetangga,
pesan anti terhadap kelompok etnis dan
partai politik tertentu.
1970an
Graffiti identik sebagai penanda wilayah
kekuasaan para preman.
1980 s/d 2000
Mulai merambah ke SMP dan SMU, yang
dengan bangga membuat graffiti nama
sekolahnya. Juga jadi ajang pamer nama geng.
2000 seterusnya
Mulai mendapat apresiasi sebagai bentuk seni.
Meski masih sulit untuk mengubah
strereotype dari generasi sebelumnya,
bahwa ini benar-benar seni.
.. CUT ..
Berawal dari kumpul-kumpul, punya hobi
yang sama, yakni di bidang seni,
maka muncullah berbagai komunitas
yang mencoba terus eksis dan menunjukkan
kepada publik tentang siapa mereka.
Selain melalui hasil karyanya, dari
hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa
mereka umumnya:
- Punya nama samaran, nickname, atau alter-ego
- Menganggap seni adalah kebebasan berekspresi
- Seni yang ditujukan untuk kepentingan komersil bukan lagi hal yang murni
3. WAWANCARA
Bagian ini, baca di bukunya, juga simak
foto-foto kreasi graffiti mereka.
4. GALERI JALANAN
Kumpulan foto graffiti di berbagai wilayah
5. EKSEBISI
Di Galeri Nasional & Museum Gajah.
Banyak foto, minim tulisan.
6. Alter ego dan ekspresi diri
Alter ego, atau sisi lain dari kepribadian
yang suatu ketika bisa muncul.
Dari beberapa obrolan, memang sering keucap.
Lebih jelasnya, kita tentu tau Peter Parker.
Saat dibutuhkan sebagai pahlawan, dia ambil
kostum dan ingin dikenal sebagai Spiderman.
Begitu juga Bruce Wayne yang jadi Batman.
Banyak orang kenal siapa tokoh yang berkostum
dan bertopeng, tapi hanya sedikit yang tau
siapa mereka di balik itu.
Para pahlawan bertopeng itu punya misi,
ingin menolong tanpa harus dikenal sebagai
siapa dirinya secara pribadi. Cukup dengan
nama samaran atau nickname.
Lebih baik, orang membicarakan tentang
siapa saya dalam sebutan ‘topeng’ itu.
Justru dengan kostum samaran, mereka bisa
lebih bebas berekspresi, memunculkan sisi heroik
dalam dirinya yang selama ini tersembunyi
oleh keja’iman atau norma sosial.
And they exist! Mengekspresikan dirinya
melalui seni. Selama ini mereka cenderung
melihat disain hanya sebagai pekerjaan,
mengikuti selera pasar, permintaan klien
dan dibatasi dalam kreativitas.
Media ruang publik berupa tembok jalanan
adalah sarana mereka meluapkan ketidak-puasan
sekaligus menampilkan sisi lain atau
alter ego yang sulit dimunculkan saat bekerja.
Perjalanan waktu membuat mereka akan
makin dikenal dan terus eksis.
Actually itu semua tergantung apresiasi
masyarakat juga dari diri mereka untuk
terus berkarya.
Biarlah masyarakat kota tak perlu tau
siapa di balik topeng, nikmati saja aksi
kepahlawanan mereka yang berniat
memperindah kota dan menghibur lewat
coretan bermakna yang kita kenal sebagai
graffiti.
Namun jika Anda penasaran, ingin kenal
lebih tentang siapa mereka, juga tak ada
salahnya.
Setiap kita yang lahir dan memiliki talenta,
wajib untuk mengelolanya hingga kelak dapat
bertumbuh dan membawa manfaat bagi
lingkungan sekitarnya. Dengan terus berkarya,
kita akan terus eksis. Seperti yang diucapkan
Bruce Wayne dalam kostumnya di Batman Begins:
“Kita dinilai bukan dari apa yang kita yakini
tentang siapa diri kita; tapi dari
apa yang kita kerjakan dan hasil yang
dinilai oleh orang lain. Itulah siapa diri
kita sebenarnya.”
+ yoDi +
Itulah sekilas isi (tulisan) bukunya,
akan ada banyak foto hasil graffiti para
artis yang telah dan akan kami wawancarai.
Jadi… tunggu saja, btw jika ingin
kenal Jefry, ini dia link Friendster-nya:
http://www.friendster.com/41414748
Keep on creating!