Como El Padre Ama Sus Niños
Como El Padre Ama Sus Niños
(Seperti bapak mencintai anak-anaknya)
Cinta adalah tema yang umum dibahas di berbagai media pada setiap Februari, sama seperti umumnya anggapan bahwa “Setiap ortu mencintai anak-anak mereka”. Seperti ditegaskan dalam Yohanes 1:12, bahwa setiap orang yang percaya diberikan status sebagai anak dari Bapa di surga, demikian pula Tuhan mengasihi setiap anak-anak-Nya.
Seperti lazimnya dalam sebuah keluarga yang punya beberapa anak, seorang bapak selalu berusaha menyayangi dan bersikap adil pada setiap anaknya. Bapak ini sadar betul ada perbedaan karakter dan pola pikir dari setiap anak yang terkadang lupa bahwa mereka semua adalah saudara. Anak mami Anak kecil Anak Ja’im Anak bandel Apa masalahnya? Apa kata Bapak? Outtabox thought Karena Bapa mengetahui kebutuhan setiap anak, Dia tidak memberi batu pada yang minta roti. Hati Bapa tersentuh saat melihat kesungguhan si anak saat berdoa, juga Bapa menghendaki agar anak-anak tak hanya bisa meminta, namun memiliki iman yang diikuti dengan perbuatan, bersikap akrab namun tetap hormat, mematuhi aturan karena itu semua demi kebaikan sang anak. Juga seperti Bapa menyayangi para anak, Ia ingin agar semua saling mengasihi dan memperlakukan satu sama lain sebagai saudara, tanpa perlu saling sinis atau menganggap “Sayalah yang paling benar dan paling dekat dengan Bapa.” Karena kita semua bersaudara dan punya Bapa yang sama.
Ada salah satu anaknya yang menganggap sang bapak sangat agung dan harus dihormati. Bapak ini dianggapnya selalu mengawasi setiap kesalahan, itu sebabnya si anak kadang merasa nggak enak saat memohon. Si anak sering meminta bantuan kepada sosok ibu, agar pesan dan permohonan disampaikan ke bapak, supaya nanti dikabulkan. Tentu saja, saat bapak mendengar permohonan anak melalui sang bunda, karena kebaikan hati si bapak dan menyadari yang diminta sesuai kebutuhan si anak, dikabulkanlah.
Karakternya persis anak bungsu yang masih kecil. Merasa dirinya paling dekat dengan bapak, paling diperhatikan dan menganggap caranya meminta kepada bapak mereka adalah yang paling benar. Si anak ini bisa merengek, menjerit, menangis sesenggukan bahkan kadang sampai berjam-jam. Kadang si anak menambahkan dengan aksi mogok makan. Semua demi mendapatkan perhatian si bapak. Karena merasa tak tega melihat anak yang ini menangis, juga karena si bapak adalah sosok yang baik hati, dan permintaan si anak sesuai kehendak bapaknya, maka dikabulkan juga.
Si anak ini merasa seperti sudah dewasa. Bertemu dengan bapaknya sendiri seperti berhadapan dengan Sultan yang duduk di atas singgasana, penuh rasa hormat dan formalitas “Karena dia adalah bapak saya, makanya saya harus meminta dengan sikap yang benar.” Begitu alasannya. Permohonan yang ia sampaikan hanya beberapa menit dengan penuturan yang sangat indah, setelah selesai iapun kembali melakukan tugas dan tanggung-jawab sebagai anak, karena dalam pikirannya “Saya harus membuat hati bapak senang dulu dengan melakukan pekerjaan di rumah, jika yang saya minta sesuai kehendak bapak, pasti bapak akan berikan.”
Merasa kurang diperhatikan, si anak terkadang ingin bertindak sendiri sesuai apa yang ia mau. Kadang ia berani melawan nasehat dan larangan bapaknya, karena ia merasa hidup dikekang oleh semua peraturan si bapak. Anak ini lebih suka langsung bertindak dan malas untuk minta-minta ke bapak karena tidak sabar, lebih baik langsung action percuma kalau hanya ngomong ke bapak.
Dalam keluarga, kadang ada perselisihan. Bapak yang baik ingin tiap anaknya rukun dan bersatu walau masing-masing punya perbedaan dalam gaya meminta. Saudara si Anak mami menganggapnya aneh, karena kalo mau meminta, mengapa harus ke ibu dulu, lagipula bapak kan sudah ajarkan kalo minta langsung kepada bapak. Saudara si anak kecil kadang menyikapi sinis, mengapa harus ngambek dan meratap dulu, padahal tanpa bersikap seperti itu, bapak pasti juga dengar. Sedangkan saudara si Anak Jai’m juga heran, sama bapak sendiri tapi sikapnya formal sekali. Sedangkan terhadap si Anak bandel, semua saudara terkadang bersikap dingin dan menganggapnya seperti bukan saudara.
Semua adalah anak-anak saya, semua saya perhatikan, semua saya dengarkan. Bahkan ketika ada anak tetangga meminta kepada saya, juga saya dengarkan. Ada juga keponakannya yang jika meminta menyebutnya “Om”, juga si Bapak mau terima. Bahkan ada anak-anak yang lebih suka disebut sebagai hamba dan memanggil “Tuan”, juga didengarkannya. Itulah Bapak yang baik, dia menganggap setiap pribadi adalah anak-anaknya sendiri. Masalahnya justru ada di tiap pribadi yang merasa seolah “Bapak/Tuan/Om ini hanya mendengarkan permohonanku dengan cara yang aku yakini sebagai yang paling benar dan paling berkenan.”
Ada orang-orang yang merasa paling dekat dengan Tuhan, menganggap Sang Pencipta sebagai Bapa. Di antara orang-orang ini terkadang ada perbedaan persepsi mengenai cara berdoa. Ironisnya di antara mereka yang mengaku sebagai saudara seiman, mereka saling merasa dirinya paling benar. Padahal Tuhan berjanji bahwa doa yang dikabulkan adalah yang sesuai kehendaknya, seperti diajarkan Yesus “Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”
+ yoDi +
Untuk bulletin edisi Februari, udah terbit duluan di sini…