Sepakbola dan retorika

EURO 2004 dimenangkan oleh
Yunani. Negeri yang identik
dengan sang filsuf, Aristoteles
yang mengajarkan kita soal retorika.
Sepakbola dan berdebat punya
satu kesamaan, adanya persaingan
dan perbedaan kepentingan.
Untuk bisa menang dalam persuasi,
diperlukan 3 unsur yang wajib
dipenuhi.
Logos, Pathos dan Ethos.
Itulah trilogi yang harus seimbang
saat kita beradu argumen.
Logos adalah soal isi, dan
kesimpulan dari fakta yang
dibungkus dengan rasionalisasi
(alasan dan penjelasan).
Dalam penerapannya kita tentu
sudah tau metode induktif
dan deduktif. Dari berbagai
contoh menjadi kesimpulan, atau
sebaliknya.
Dalam sepakbola, Logos adalah
jumlah gol. Tim yang menang ditentukan
bukan dari banyaknya pelanggaran,
jumlah tendangan bebas atau sudut,
atau persentase penguasaan bola.
Sangat obyektif, tim yang membuat
gol lebih banyak, itu yang menang.
Namun kadang, kemenangan juga diukur
dari aspek Pathos, yakni bagaimana
cara membuat diri kita disukai,
bisa diterima. Dalam satu ungkapan:
menjadi juara di hati.
Dalam berdebat aspek Pathos adalah
masalah etika, cara berdandan,
nada dan gaya bicara yang sopan
dan elegan, sehingga bisa memenangkan
argumen sekaligus merebut simpati.
Sportivitas dan permainan cantik
adalah aspek Pathos dalam sepakbola
yang juga mendapatkan penilaian.
Sebuah tim yang kalah dalam jumlah
gol bisa tetap merebut simpati
asalkan bermain indah dan dibarengi
perilaku sportif para pemain dan
suporter.
Ethos adalah aspek kepribadian,
berkaitan dengan karakter,
pengalaman, sejarah prestasi
dan reputasi seseorang.
Seminar kesehatan yang dibawakan
seorang dokter lulusan S3 dan
sering muncul TV tentu akan terasa
berbeda ketimbang dibawakan
seorang mahasiswa S1 calon dokter,
walau materinya sama saja.
Siapa yang mengatakannya, itu yang
membedakan bobot dari sebuah argumen.
Dalam sepakbola, inilah faktor
sejarah atau tradisi yang membentuk
mental juara. Nama besar sebuah
klub memberi nilai tambah dalam
sebuah duel. Meski sebuah tim tenar
kalah dalam jumlah gol dalam
satu pertandingan, namun rasa kagum
tak langsung luntur. Kontras andai
itu terjadi pada sebuah tim papan
tengah atau calon degradasi.
Sepakbola adalah miniatur kehidupan
yang mengajarkan soal kompetisi.
Beradu argumen atau yang di Indonesia
menjadi sebuah idiom ’silat lidah’
adalah bagian dari kompetisi.
Gebuk-gebukan adalah budaya primitif
dan membuat kita kehilangan nilai
sebagai manusia yang seharusnya
mampu menang dengan cara yang elegan.
Dengan logika yang tepat,
fakta menjadi kesimpulan yang valid.
Hanya jumlah gol yang menentukan
siapa pecundang dan pemenang.
Dengan penyampaian yang elegan,
kita memenangkan argumen sekaligus
simpati
dari rekan bicara. Andai
kalah dalam duel Logos, masih
tersisa rasa hormat dari sang lawan
dan suporter, karena sportivitas
dan permainan yang memukau.
Dengan terus berjuang, belajar
dan bersaing, kita menambah kualitas
dan membangun reputasi
. Tak beda
dengan tiap klub atau negara
yang mengejar trofi. Kelak semua
akan dicatat oleh sejarah, yang akan
merekam prestasi sehingga mampu
memberi bobot lebih saat kita
berbicara, dalam arti sesungguhnya
atau saat harus tampil dalam bidang
yang kita geluti.
Sepakbola dapat dianalogikan
sebagai retorika. Untuk jadi
pemenang, Aristoteles telah mengajarkan
caranya dengan menang melalui
Logos, Pathos dan Ethos.
+ yoDi +
I wrote this for SOCCER site…
Further explanation, please read RHETORIC

Leave a Reply